Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Mei 2021

Sudah Shalat, tapi kok Masih Maksiat?



Setiap manusia memiliki tugas yang sama terhadap Rab-nya yaitu beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Tak terkecuali bagi seorang muslim. Mereka memiliki tugas untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangannya. Mengerjakan perintah-Nya saja tidaklah cukup, namun seorang muslim yang taat, hendaknya ia meninggalkan segala larangannya. Dan di sinilah akan terlihat kepribadian seorang muslim, apakah ia taat kepada tuhannya atau malah sebaliknya.

Ketika seseorang telah memilih Islam sebagainya keyakinannya, hendaklah ia mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya. Segala ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam tidak boleh dipilih-pilih semaunya sendiri. Shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya haruslah dikerjakannya bukan malah ditolaknya dan memilih ibadah yang disukainya saja. Ketika ada bentuk ibadah yang ditolaknya, maka tak sempurnalah keimanannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةَ ...

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya..( Al-Baqoroh; 208)

Seorang muslim tidak boleh memaksa saudaranya untuk masuk ke dalam Islam. Namun, bila ia telah masuk Islam, ia harus mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tak boleh memilih semaunya, apalagi ibadah sekehendaknya dengan menabrak aturan syariat yang ada. Termasuk ibadah shalat.

Shalat adalah bentuk ibadah yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang beragama Islam. Dalam Islam, shalat dibagi menjadi dua. Ada yang bersifat wajib dan ada juga bersifat sunnah. Shalat yang wajib bagi setiap muslim adalah shalat lima waktu, yaitu shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Kelima shalat ini menjadi penentu akan keislaman seseorang. Bila ia meninggalkannya, ia mendapat ganjaran berupa dosar besar kelak di akhirat nanti.

Tujuan dari shalat adalah mencegah seseorang untuk tidak berbuat keji dan munkar. Perbuatan keji adalah segala bentuk kejelakan yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti mencuri. Karena tangan menjadi pelaku utama dalam tindakan maksiat ini. Dan perbuatan munkar adalah segala bentuk kejelakan yang diingkar oleh hati, seperti berbohong. Ketika seseorang berbohong, maka hatinya akan mengikarinya. Karena sejatinya, fitrah manusia adalah selalu melakukan kebaikan dan menolak keburukan.

Bila seseorang telah mengerjakan shalat, namun dirinya masih berbuat maksiat, lalu apakah bisa disebut sebagai hamba yang taat?

Bisa jadi, ia hanya mengerjakan shalat dengan semaunya tanpa memahami makna dan bagaimana shalat yang benar itu.

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut: 45)

kata  "اُتْلُ"memiliki arti “Bacalah”. Padahal kata ini bukan hanya diartikan bacalah. Namun bacalah dan pahamilah makna yang lebih lengkap untuk kata di atas. Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya untuk membaca ayat-ayat-Nya dan memahami kandungan-Nya. Tujuannya adalah agar terciptanya kenikmatan dalam shalat. Bila hal ini telah dirasakan, tak mungkin rasanya akan timbul perbuatan keji dan munkar dalam prilakunya.

Shalat adalah bentuk interaksi antara hamba dan Allah. Saat shalatlah, seorang hamba menjadi sangat dekat dengan tuhannya. Maka tak heran, bila seseorang memiliki masalah, lalu ia beralih ke aktivitas shalat, maka setelah itu akan terasa ketenangan. Walau masalah belum selesai, namun rasa tenang akan terasa di hati.

Bila kita koreksi diri, sudah berapa persen bacaan shalat yang sudah kita hafal dan paham? Sudah kah kita khusyuk dalam shalat? Atau jangan-jangan, shalat yang kita kerjakan hanya pengugur kewajiban? Atau bahkan hanya sekedar shalat agar dikatakan sebagai shalat muslim?

Masih ada waktu untuk memperbaikannya. Hidayat-Nya sangat terbuka. Magfirah-Nya selalu ada untuk hamba-Nya. Selagi masih bisa untuk diperbaikinya, kenapa harus menunda? Jangan sampai menyesal, karena waktu tak bisa diputar. Perbaiki shalat, agar hidup ini tak bergelimang dengan maksiat agar kelak menjadi hamba yang taat.      

 

 

 

 

 

 

 



Selasa, 15 September 2020

I am a Good Looking

Apa yang salah dengan “Good Looking”?


Bila kulit manusia adalah organ perasa yang paling sensitif. Maka, rasanya iman seorang muslim pun amat sangat sensitif akan kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu. Masih ingatkah kita akan statement dari salah satu pemangku jabatan di negeri ini bahwa good looking adalah sumber radikalisme?

Pernyataan ini sempat viral di media-media di negeri ini. Baik di Instagram, Youtube, atau berita-berita online. Rasanya kita masih ingat akan pernyataannya bahwa dulu ia pernah menyampaikan akan larangan memakai celana cingkrang dan cadar di lingkungan ASN. Dan anehnya, ini terulang kembali. Ia menyatakan bahwa orang yang penampilannya terlihat apik dan pandai berbahasa arab seakan menjadi sarang radikalisme dan termasuk orang yang harus diwaspadai.

Padahal, good looking atau hafidz sendiri memiliki arti yang baik yaitu orang yang memiliki kepribadian baik. bukan hanya itu, ia juga memiliki kedekatan dengan kitabullah. Lalu, dimana celah yang harus diwaspadai? Bukankah orang yang dekat dengan al-Quran adalah orang yang baik? Sebagaimana Rasulullah sampaikan :”Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”


Tak hanya itu, bila orang-orang saat ini lebih gemar dan bangga dengan Bahasa Inggris. Maka, sebagai umat Islam pun kita memiliki kebanggaan yaitu bisa menguasai Bahasa Arab. Karena ini adalah bahasa al-Qur’an. Dengan menguasai Bahasa Arab, seorang muslim akan sangat mudah untuk menghafal dan memahami isi al-Quran.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (yusuf:2)

Bahasa Arab adalah bahasa yang sudah ada dari zaman Nabi Ismail As hingga saat ini. Bahasa ini pula memiliki beragam makna. Bahkan, Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql)

Selain itu, salah satu imam fiqh, yaitu Iman As-Syafi’I berkata, “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321). Melalui pernyataan di atas, rasanya sudah jelas bahwa menguasai Bahasa Arab adalah keharusan. Bukan keterpaksaan. Bila belajar Bahasa Inggris harus rela untuk berjuang demi menggapai nilai duniawi. Lalu, mengapa berjuang untuk menggapai akhirat, rasanya amat berat?

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang perlu diwaspadai. Terlebih saat ini, kita berada di akhir zaman. Segalanya seakan indah di awal. Namun, amat durjana di akhir. Teramat banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang manis di lisan namun amat sangat ingkar untuk dikerjakan. Bahkan cenderung ditinggalkan. Maka, perkara ini pun telah Allah sampaikan dalam kitab-Nya.

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqoroh:204)

          Banyak yang pandai membuat janji, namun amat sulit untuk ditepati. Terlalu banyak duri untuk negeri ini, namun teramat sulit obat untuk mengobati. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Itulah yang terlihat dari negeri ini. Sudah saatnya kita saling membantu dan berbagi. Bukan hanya sebatas materi, tapi juga ilmu dan pengajaran akhlak dan budi pekerti agar bangsa ini memiliki akhlak yang terpuji. 

Selasa, 28 Juli 2020

Khazanah Islam

Bulan Bersinar di Bumi Eropa

            Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat jelas.

           Korban-korban berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.

             Namun, di sisi lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.

           Menurut Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin Konstantinopel.


            Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini, tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.

               Sontak, ini menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.

      Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)

       Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

              

         Waktu yang dibutuhkan oleh umat Islam untuk menaklukan bumi Turki sangat lama. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan pernyataan Rasul di atas. Di tahun 6 H, Rasulullah pernah mengirim sebuah surat kepada Heraklius yang isinya adalah ajakan untuk masuk Islam. Tapi, beliau menolaknya. Namun, saat ini, di dalam benaknya ada firasat, bahwa kelak Islam akan bisa menduduki bumi yang dipijaknya saat ini.

            Selepas perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah banteng Konstantinopel.

                Nafas kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota Umat Islam.  Dan kini, kita semua bisa melihat itu semua.

                Sinar bulan kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.


Jumat, 03 Juli 2020


Sudahkah kita membaca Al-Qur’an?


Sudah sepatutnya, membaca Al-Qur’an menjadi kebutuhan bagi setiap muslim. Membaca Al-Qur’an bukan hanya sebatas kewajiban, melainkan juga sebagai kebutuhan ruh yang harus selalu diisi setiap hari. Jika urusan fisik saja, selalu diperhatikan. Makan dan minum selalu diutamakan, lalu untuk urusan ruh, kok dilupakan?

Keseimbangan antara fisik, ruh, dan akal harus dikerjakan secara seimbang. Kebutuhan fisik dengan memperhatikan kebutuhan tubuh. Dari mulai mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, berolahraga, dan membuat lingkungan hidup yang sehat. Kebutuhan akal pun tak kalah penting. Belajar, membaca, menulis adalah rutinitas yang menunjang keseimbangan akal. Dan yang tak kalah paling dari itu semua adalah kebutuhan ruh. Hal ini ditunjang dengan ibadah-ibadah yang kita kerjakan, seperti shalat, puasa, dan juga membaca Al-Qur’an.
Namun, yang sangat disayangkan adalah masih banyak yang kesulitan untuk menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Baik membacanya, mentadaburinya, atau juga menghafalnya. Terlebih bagi yang hidup di lingkungan perkotaan. Aktivitas duniawi seakan menjadikan aktivitas akhirat ditelantarkan. Kesibukan pekerjaan membuat waktu untuk belajar Al-Qur’an seakan sedikit. Bahkan, tak ada.
Bagaimana agar kita bisa memiliki semangat untuk memperlajari Al-Qur’an?
Agar kita bisa memiliki niat dan semangat untuk mempelajari kitab Allah, maka kita harus mengetahui keutamaan dari mempelajarinya. Mengutip dari kitabisa.com, di antaranya keutamaan belajar Al-Qur’an adalah


1.      Mendapatkan kebaikan
Dalam hadits Imam Muslim, diriwayatkan Aisyah ra, Rasulullah bersabda, “Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah. Adapun yang membacanya dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut. Maka, baginya dua pahala.”
Entah, berapa usia kita, sesibuk apapun kita, baik sudah lancar atau belum, semuanya memiliki keutamaan. Yang sudah lancar dalam membacanya, maka dirinya dikelilingi malaikat. Yang belum lancar pun, maka baginya dua kebaikan. Pahala pertama dari bacaan itu sendiri dan pahala kedua, pahala dari usahanya untuk bisa membaca Al-Qur’an.
2.      Terpelihara dari kegelapan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendengar satu ayat dari kitab Allah, ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang membacanya pula, baginya cahaya di hari kiamat.”
Setelah fase di dunia ini, kita akan masuk ke alam kubur. Alam di mana keadaannya sangat gelap. Bahkan, keadaannya lebih gelap dari keadaan di dunia. Listrik nggak ada, cahaya lilin pun juga nggak ada. Hanya ada cahaya amal shaleh dan Al-Qur’an yang bisa menjadi penerang di alam kubur nanti.
3.      Mendapatkan syafaat
Dalam hadits Muslim, Abu Umamah Al Bahily ra berkata, “Aku telah mendengar, Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada orang yang membacanya.”
Di hari kiamat kelak, semua orang sangat sibuk akan kesibukannya masing-masing. Hubungan keluarga di dunia menjadi tak berharga kelak, kecuali Allah mengizinkannya. Semua orang mengharapkan syafaat dari yang Maha Pemberi Syafaat, yaitu Allah. Dan kelak, Al-Qur’an pun bisa memberi syafaat kepada orang-orang yang sering membacanya.
Semua orang memiliki kesempatan untuk belajar Al-Qur’an. Baik mereka yang muda, orang tua, atau juga lansia. Bila ada rasa malas, ingat-ingatlah akan keutamaannya. Uang kelak tak ada artinya, jabatan kelak tak bernilai dihadapan-Nya. Hanya amal shaleh yang kelak akan  berharga dan dari membaca Al-Qur’an tersimpan akan kemulian yang tiada ternilai harganya. Semoga kelak, kita menjadi hamba-hamba yang mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an.

Rabu, 24 Juni 2020



Asal Usul Penamaan Manusia di Dalam Al Qur’an


Ada banyak sekali makhluk yang Allah ciptakan di dunia ini. Sebut saja jin, iblis, syaithan, tumbuhan, hewan, dan manusia. Namun, dari sekian makhluk, manusia adalah makhluk yang Allah pilih untuk mengemban amanah sebagai khalifah. Dalam buku “Manusia Paripurna” dijelaskan bahwa khalifah adalah misi yang harus diemban setiap manusia di muka bumi. Karena khalifah sejatinya adalah nama bagi pengemban sifat khilafah, terambil dari kata khalafa, yang artinya menggantikan yang berlalu. Manusia disemati nama khilafah karena keberadaannya bersifat sementara di bumi ini dan akan saling menggantikan dari satu masa ke masa lainnya.

Agar kita bisa mengerjakan misi mulia itu, perlu sekiranya kita merenungi sejenak, kenapa penciptaan makhluk yang ditugaskan menjadi khalifah dinamakan Manusia. Karena bila kita telusuri, di dalam al-Qur’an ada empat kosa kata manusia yang ditulis secara berbeda. Ada basyar, ins, insan, dan nas. Namun, setiap kata tersebut memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Mari kita bahas sedikit demi sedikit.
             1. Basyar بشر
idenamaislam.com

           Abu Hilal al-‘Askari menulis, bahwa kata basyar berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan memiliki penampakan yang indah.
Penciptaan manusia dengan nama basyar, seakan Allah ingin mengisyaratkan bahwa secara fisik, manusia itu diciptakan dengan bentuk yang baik. Bahkan, keterangan ini, bisa ditemukan di Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4, yang berbunyi ;”Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Secara fisik, manusia telah Allah ciptakan dengan sempurna. Lalu, mengapa masih saja, ada dari kita yang minder akan anugrah yang telah Allah berikan? Bagaimana pun bentuk kita, status kita tetap hamba dihadapan-Nya. Tak perlu risau, bila ada yang menghina kita. Karena bisa jadi, orang yang dihina itu lebih mulia statusnya dihadapan-Nya.
              2. Ins ( إنس )
Dalam ceramahnya, Ust Adi Hidayat menyampaikan bahwa kata Ins memiliki arti sesuatu yang nampak. Dan bila ditelusuri, kata Ins selalu bersanding dengan Jin yang artinya sesuatu yang tak nampak. Hal ini menunjukan bahwa fitrah manusia itu terlihat dan nampak.
Selain itu, kata Ins juga memiliki arti ramah dan lembut. Bila kita menemukan manusia dengan sifat yang buruk, maka sejatinya dia telah keluar dari fitrahnya. Karena fitrah manusia adalah selalu bersikap ramah dan lembut. Baik dalam beribadah dan juga bermuamalah.
              3. Insan (إنسان)

Bila merunjuk kepada buku manusia paripurna, bahwa kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa, dan raga. Dari sini, perlu direnungkan kala al-Qur’an menunjuk manusia dengan kata insan, karena penunjukan ini mengikat seluruh potensi jiwa dan raganya secara total.
Maka dari itu, sejatinya setiap individu kita dituntut untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Baik secara jiwa dan raga. Karena bila tidak, pribadi tersebut berada di posisi yang rugi. Coba kita lihat, dalam surat ke 103, di sana kata manusia ditulis dengan kata insan. Yang mana bisa kita pahami, bahwa manusia itu berada di posisi yang rugi, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal shaleh, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga kesabaran.
4. Naas
Kata ini lebih mendunjukan kepada aspek sosial. Yang mana setiap manusia harus bisa berinteraksi secara sosial. Baik dia seorang muslim atau non-muslim. Maka, dalam hal sosial, tidak ada batasan untuk melakukan interaksi. Sebagai contoh dalam perniagaan, sebagai muslim diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan non-muslim. Selama perniagaan itu berada dalam jalur yang diperbolehkan negara dan agama. 
Dari pemaparan di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa penamaan manusia di dalam al-Qur’an ditulis secara bervariasi. Ada yang ditulis dengan basyar, ins, insan, dan naas.
Bila ditemukan kata basyar, maka ini menunjukan bahwa setiap manusia diciptakan secara lahiriah. Yang mana mereka butuh makan dan minum. Bila menemukan kata ins, hal ini menunjukan bahwa manusia dituntut untuk dapat bersikap secara ramah dan lembut. Ada juga kata insan, yang berarti bahwa setiap manusia dituntut agar bisa beraktivitas secara totalitas, baik secara jiwa dan raga. Dan ada juga naas, yang berarti setiap manusia harus mampu bersikap secara sosial.
Semoga dari uraian di atas, kita bisa lebih memahami akan penamaan diri kita sebagai manusia. Dan tentunya, fungsi-fungsi penamaan manusia di atas, dapat kita terapkan dan amalankan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadikan diri kita pantas menyandang status khalifah.