Menebar
kebaikan bersama al-Qur’an
Islam adalah
agama yang penuh kedamaian. Karena di Islam, seorang muslim tidak hanya
bermuamalah kepada Allah saja, melainkan, dirinya juga harus bisa bermuamalah
dengan sesama manusia. Baik yang seiman ataupun yang tak seiman. Di antara bentuk muamalah yang bisa dilakukan sesama manusia adalah membantu saudara-saudara yang kesulitan, memberikan manfaat kepada
sesama, mengajak orang-orang untuk berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Dari
sanalah akan timbul rasa ketenangan, kedamaian, dan rasa saling menghormati sesama manusia.
Selain itu,
perintah berbagi pun telah Allah terangkan dalam al-Qur’an:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ
حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan
orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan
bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS.
Al-Baqoroh:261)
Allah akan membalas kebaikan seorang muslim sebanyak sepuluh kali
lipat. Namun, bila seseorang muslim membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka
ganjaran yang diterimanya akan berlipat-lipat, bahkan bisa mencapai 700 kali lipat.
Namun, Allah bisa saja membalasnya lebih dari itu, karena Allah Maha Memberi
dan Maha Pengasih.
Kehidupan ini bukanlah sebatas individualisme saja. Karena sejatinya manusia memiliki sifat sosial. Di
mana dirinya hidup secara bermasyarakat dan berkelompok. Di kala susah,
tentunya ia akan membutuhkan bantuan seseorang. Bisa saudara, tetangga, kerabat atau bahkan orang yang tidak dikenal. Di kala senang, dirinya bersyukur dan
melibatkan Allah atas segala kenikmatan yang didapatkannya. Tentunya, kenikmatan itu juga ditebar di kalangan orang-orang yang berada di sekitarnya. Rasulullah SAW
pernah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad,
ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam
Shahihul Jami’ no:3289).
Kebaikan yang dilakukan oleh
seseorang, sejatinya akan kembali kepada dirinya sendiri. Apa yang diperbuatnya
akan memberikan dampak positif bagi kehidupannya. Begitu pula sebaliknya,
keburukan yang dikerjakannya akan berdampak negatif kepada dirinya pula.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ
أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu
berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan)
itu bagi dirimu sendiri … “ (QS. Al-Isra:7)
Berbagi itu tidak perlu menunggu harta menumpuk atau melimpah, tetapi berbagi itu setiap waktu. Baik dalam lapang ataupun sempit. Berikut adalah beberapa kegiatan ami dalam menebar kebaikan bersama al-Qur’an.
Kala itu, Yayasan Nida Al-Syakur yang
bertempat di Pekayon, Bekasi mengadakan santunan anak yatim yang bertepatan
di hari Ahad, 7 September 2020. Di antara bentuk santunan yang diberikan
kepada mereka adalah uang secukupnya dan wakaf al-Qur’an. Kami pun memutuskan
untuk memberikan al-Qur’an wakaf agar mereka bisa lebih dekat dengan Islam. Karena
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sebaik-baiknya diantara kalian adalah siapa
yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Kami
pun sadar bahwa dengan berbagi, hidup seakan lebih bermakna. Harta yang kita
miliki bukanlah yang tersimpan di bank atau rekening pribadi, melainkan harta
yang kita miliki adalah apa yang kita infakkan atau berikan kepada
orang lain. Terlebih kepada anak-anak yatim, karena sesungguhnya merekalah
orang-orang yang sangat dengan Rasulullah kelak di hari akhir.
Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu
dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan
jari tengahnya serta merenggankan keduanya. (HR. Bukhari)
Sadesha
(Satu Desa Satu Hafidz) adalah program yang digagas oleh Pemerintah Daerah
Provinsi Jawa Barat yang menargetkan 3000 Hafidz di tahun 2020. Kala itu, kami
memberikan wakaf al-Qur’an untuk salah satu masjid yang ikut berpartisipasi
dalam program ini. Kami pun berharap agar setiap apa yang mereka usahakan, baik
ketika membaca al-Qur’an, menyelami kandungan ayatnya, atau menghafalnya akan
menjadi amal jariyah bagi para wakif dan orang-orang yang turut serta dalam
mensukseskan program ini.
Tahun
2020 pun menjadi tahun yang sulit bagi kita. Di mana pandemic covid-19
menjadikan semua sektor menjadi melambat. Krisis kesehatan, sulitnya lapangan
pekerjaan, dan melambatnya proses pembelajaran menjadikan semua harus bisa
bertahan dan berjuang menghadapi pandemic ini. Semua dituntut untuk berbuat. Yang
kelebihan harta membantu saudaranya yang kekurangan. Mereka yang kekurangan
juga dituntut untuk bersabar akan musibah ini. Yakinlah bahwa Allah menguji hamba-Nya
sesuai dengan kadar kemampuannya.
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (QS. Al-Baqoroh:286)
Mari kita pupuk “Semangat Berbagi di Era Baru (https://www.ucareindonesia.org/)” bersama “LAZ U Care Indonesia (https://www.ucareindonesia.org/ )”. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah nilai. Kita hanya berusaha agar semua apa yang kita lakukan dapat dinilai baik oleh Allah dan Dia ridha atas apa yang kita lakukan. Hilangkan rasa “riya” karena itu bisa menjadikan amal-amalan kita sia-sia dihadapan-Nya
“Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.”

