Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2020

Khazanah Islam

Bulan Bersinar di Bumi Eropa

            Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat jelas.

           Korban-korban berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.

             Namun, di sisi lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.

           Menurut Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin Konstantinopel.


            Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini, tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.

               Sontak, ini menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.

      Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)

       Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

              

         Waktu yang dibutuhkan oleh umat Islam untuk menaklukan bumi Turki sangat lama. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan pernyataan Rasul di atas. Di tahun 6 H, Rasulullah pernah mengirim sebuah surat kepada Heraklius yang isinya adalah ajakan untuk masuk Islam. Tapi, beliau menolaknya. Namun, saat ini, di dalam benaknya ada firasat, bahwa kelak Islam akan bisa menduduki bumi yang dipijaknya saat ini.

            Selepas perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah banteng Konstantinopel.

                Nafas kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota Umat Islam.  Dan kini, kita semua bisa melihat itu semua.

                Sinar bulan kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.


Jumat, 10 Juli 2020

Explore Indonesia


Tanah Padandayan
        Kemarin, kita telas ulas tentang indahnya dataran tinggi Dieng, salah satu dari destinasi wisata asal Jawa Tengah. Indah, cantik, dan mempesona bisa disematkan kepada wilayah tersebut. Bahkan, masih banyak lagi pujian yang menurut saya, pantas disandang. Pokoknya, rugi deh kalau kalian belum pernah ke sana.
            Nah, kali ini, kita masih akan mengulas tentang destinasi pengunungan juga.
            Kok gunung lagi sih? Pasti ada berpikiran begitu yah?
         Sejujurannya, saya memang senang naik gunung. Eits, hanya senang yah. Bukan hobi. Karena di sana, saya lebih merasa menjadi diri saya pribadi.
Di gunung, mau enggak mau, kita harus saling membantu. Teman kelelahan, kita tunggu. Kita kelelahan, mereka menunggu. Seakan itu seperti magnet yang saling berketaitan.
            Bila di gunung saja, kita bisa saling membantu. Mengapa dalam kehidupan sehari-hari, kok jarang banget yah? Tetangga rumah kesulitan, kadang-kadang cuek. Bahkan, sampai nggak tahu. Kalau hidup di kota sih, masih wajar. Karena siklus kehidupannya, berangkat pagi pulang malam. Pas weekend, maunya rebahan. Jadi, kalau nggak ada niat keluar rumah, mana tahu kondisi tetangga. Tapi tetep yah, itu nggak bagus. Sudah semestinya, kita harus tahu kondisi tetangga kita. karena bagaimana pun, mereka adalah saudara tak seibu yang berada paling dekat dengan kita.
            Dari situ, saya mulai merasa, kalau ingin melihat teman kita baik sama kita, coba ajakin naik gunung. Kalau egois, nanti ketahuan deh sifatnya. Tapi, kalau dia nggak mau, jangan dipaksa. Nanti kalau dipaksa, jadi malah beban buat kita.


       Balik lagi yah, seputar destinasi pegunungan. Kali ini, saya akan mengulas gunung yang tingginya sih, nggak terlalu tinggi sih. Pokonya cocok deh, buat pemula. Selain itu, jalannya pun sudah dirapihin. Karena gunung itu sudah dijadikan kawasan wisata. Jadi akses pendakiannya pun, terbilang cukup terawat.
        Kala itu, saya berangkat dari Bekasi bersama lima orang teman. Sebenarnya berenam, yang satu lagi, katanya menyusul. Karena masih ada rapat di kantornya.
Kami pun memutuskan untuk berangkat di Jumat sore dengan bis menuju ke Garut. Sesampainya di Garut, kami istirahat di terminal sambil menunggu waktu fajar datang. bersih-bersih dulu, biar kelihatan agak rapih.
Mentari pun sudah menyapa. Kami pun mulai mencari angkot yang akan membawa kami ke kawasan Gunung Papandayan. Sang kenek pun menawari kami untuk menaiki angkot miliknya. Setelah melakukan negoisasi, kami pun setuju dengan harga yang ditawarkan. Ternyata, kami diantar bukan di titik simaksi.
“Kalau mau ke simaksi, naik mobil jip itu, Kang,” jawab salah satu kenek angkot yang tadi kami menaikinya.
Sebelum beranjak ke mobil jip, kami pun hampir ke warung untuk sarapan. Tak lupa, kami juga membungkus nasi untuk bekal makan malam. Karena kami memang sengaja nggak bawa beras. Kami hanya membawa makanan siap saji yang nantinya hanya tinggal dipanaskan. Jadi gas yang dibutuhkan tidak banyak.
Welcome, papandayan!!
Sebelum kami masuk, kami pun membayar karcis. Saat itu, setiap orang dikenai 65.000. Menurut kalian, mahal nggak? Kalau menurut saya sih wajar. Karena wilayah ini sudah dikelola oleh beberapa pihak. Kalau masih dikelola oleh penduduk sekitar, mungkin nggak sebesar itu.
Oke, lanjut. Kami pun nggak melanjutkan pendakian. Karena salah satu teman kami, katanya mau menyusul. Akhirnya, kami pun menunggunya di pos yang ada di dekat pintu masuk. Menjelang siang, dirinya pun datang. Dan akhirnya, pendakian pun dimulai.
Tak butuh waktu lama. Kurang lebih dua jam kami sudah mencapai area camp, Pondok Saladan. Di sana sudah berdiri beberapa tenda. Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. Kami pun memilih area yang datar untuk pendirian tenda. Magrib pun telah tiba, tenda pun telah berdiri. Suasana malam menjadi berbeda di malam itu. Yang biasanya, suara knalpot selalu tergiang, saat itu, nampak tenang.

Pagi hari, kami pun mengujungi hutan mati. Ini adalah spot yang banyak dikunjungi oleh para traveller. Kondisinya, benar-benar seperti hutan yang mati. Jadi nggak salah deh, jika dinamai “Hutan Mati”. Kami pun berfoto-foto di sini, sebelum nantinya kami akan menuju ke area Bungan edelwies. Iya, di Papandayan juga ada spot yang menarik, yaitu taman ederlwies. Di sana, bunga-bunga indah banget buat dijadikan background poto. Nggak sia-sia deh, jika kalian ke sini.
Menjelang dhuha, kami pun merapikan tenda dan berkemas untuk turun gunung. Estimasi jika kami turun di waktu dhuha, kami akan tiba di terminal, saat sore hari. Lalu naik bis arah Bekasi dan tiba di kota kami pada malam hari.
Sedikit dari pengalaman saya, saat jalan-jalan ke Garut. Nggak salah deh, kalau naik gunung di Garut. Pemadangannya indah banget. Tranportasinya juga mudah. Tapi saran saya, jika kalian ke Garut, naiklah bis primajasa. Karena ketika berangkat, saya pakai bis yang berbeda. Dan itu, nggak nyaman. Ketika pulang naik primajasa, badannya pun bisa tidur terlelap.
Merbabu, Mahameru, Rinjani. Semoga bisa bertamu ke diri kalian!

Senin, 06 Juli 2020

Explore Indonesia


Pesona Negeri di Atas Awan

        Kalian lebih setuju mana, jalan-jalan ke luar negeri atau jalan-jalan di dalamnya negeri?
             Kalau saya sih, lebih milih dalam negeri. Eits, bukannya luar negeri nggak mau, tapi karena budget yang terbatas. Hehe..
          Tapi, di dalam negeri sendiri, banyak banget destinasi yang bisa kita nikmati. Sebut saja, kalau di Sumatra, ada Danau Toba, Gunung Kerinci, Titik 0 Kilo Meter di Sabang, Pulau Belitong. Di bagian Timur, ada Wakatobi, Raja Ampat, dan masih banyak lagi. Apalagi di Pulau Jawa sendiri. Banyak banget deh, destinasi yang keren-keren. Ada Gunung Semeru, Gunung Bromo, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Tangkuban Perahu, dan juga Gunung Prau.
        Nah, Berbicara mengenai Gunung Prau, saya rasa sebagian kalian, pasti sudah pernah ke sana kan?
            Kalau yang belum, kali ini saya akan berbagi pengalaman saya, saat melancong ke negeri di atas awan itu.
            Oh iya, sebenarnya, saya perginya sudah lama kok. Mungkin sekitar tahun 2016, yaitu empat tahun yang lalu. Tapi, baru sempet nulis sekarang. Hehe…
            Saat itu, saya berangkat dari Bekasi bersama empat orang teman saya. Dan dua lagi, kita janjian di sana, yaitu di Wonosobo. Yang satu, teman dari Jogja. Dan yang satunya lagi, tuan rumah, yang rumahnya di Wonosobo. Jadi, kita bisa istirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di sekitaran Gunung prau. Jadi total, kita berenam.
            Nah, kalau kalian ke Wonosobo, jangan hanya mengunjungi Gunung Prau aja yah. Tapi harus juga mengunjungi berbagai destinasi yang ada di sekitarannya juga. Apa aja sih, desnitasi yang berada di dekat sana
1.    Alun-alun Wonosobo
ungarannews.com
Setahu saya nggak banyak para traveller yang berkunjung ke sini. Walau ini hanya alun-alun kota, tapi suasana enak banget. Sejuk dan dingin, kalau ke sini malam hari. Kebetulan rumah temen saya deket sini, tepatnya di belakang kampus Unsiq. Jadi kita malam-malam sebelum berangkat ke Gunung Prau, mampir ke sini deh.
Yang paling saya ingat di sini adalah saat saya beli sekuteng. Tahu kah yah Sekuteng? iya bener banget. Minuman yang ada aroma jahe dan tambahan kacang gitu. Nah, kalau biasanya itu hangatnya bisa bertahan lama. Tapi, kalau di Wonosobo, jangan harap. Paling setelah lima menit minuman disuguhkan, minuman itu udah dingin. Yah, setelah saya pikir-pikir, wajar sih. Karena udara di sini, dingin banget.

2.    Telaga Tiga Warna
Di Wonosobo, bukan hanya ada Gunung yah. Tapi ada juga, telaga. Namanya telaga tiga warna.
Di sini, kalian bisa menikmati suasana telaga yang sejuk banget sambil mengambil spot foto yang kalian mau. Di sini, juga bisa jadi tempat pelepah penat, setelah beraktivitas padat dengan banyaknya pekerjaan di kantor. Hehe…


3.    Kawah Sikidang
Kalau di Jawa Barat, ada Tangkuban Perahu. Di Jawa Tengah juga ada kawah yang cukup terkenal, namanya Kawah Sikidang. Destinasi ini letaknya juga di Wonosobo, dan tak jauh dari area Gunung Prau.
Di sini kita bisa jalan-jalan menikmati kawah sambil merebus telur. Bagi yang mau. Tapi, asyik loh, merebus telur di sini. Yang biasanya merebusnya pakai kompor, ini pakai air panas dari kawah.
Tapi, kalau kalian ke sini, jangan lupa, pakai masker yah. Karena bau belerangnya sangat nyengat banget. Kalau nggak pakai, jadi kurang nyaman jalan-jalannya. 

4.    Gunung Prau
Ke Dieng, pasti tujuan utamanya, ke Gunung Prau dong. Karena di sinilah icon dari Kota Wonosobo. Gunungnya sih, nggak tinggi. Paling sekitar dua jam, kalian sudah sampai di titik camp. Oh iya, kata orang-orang sih, Gunung Prau juga disebut bukit teletabis. Karena memang, secara geografis, mirip banget. Bagi kalian yang nggak tahu, apa itu bukit teletabis, berarti karena bukan generasi 90-an yah. Hehe..

5.    Bukit Sikunir
Nah, ketika itu, saya nggak mendirikan tenda di Gunung Prau, karena kita pengen melihat “Sunrise” di Bukit Sikunir. Al hasil, kita pun berangkat ke sana, sekitar jam sebelas malam. Nah, pas di sana, ternyata kita nggak bisa ngecamp di Bukit Sikunir.
“Kalau mau ke sana, nanti sekitar jam tiga, Mas.” Ucap salah satu petugas di sana.
Akhirnya, kami pun menyewa tenda dan mulai istirahat di pinggiran danau dekat sana. Sebelumnya nantinya setelah subuh, kita akan mendaki bukit itu untuk menikmati sunrise.

             Nah, pastinya udah kebayang kan, gimana pesona negeri di atas awan itu. Bagi kalian yang belum ke sana, cobalah berkunjung ke sana. Saya pun ketagihan. Karena, indah banget tempatnya.
            Oh iya, kalau ke sana, saran saya sih, enaknya kalian pakai kendaraan pribadi, entah mobil atau motor. Karena objek yang keren, di sana banyak banget. Nah, kalau pakai kendaraan umum, takutnya ada keterbatasan gerak untuk mengunjungi semua destinasi yang ada.
        Selamat berjalan-jalan ria yah!