Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Maret 2021

Resensi Buku Indiva 2020

 

Judul Resensi             : Walau Berbeda, Dia Tetap Ayahku

Nama Buku                 : Ayah Aku Rindu

Penulis                         : S Gegge Mappangewa

Penerbit                      : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit               : 2020

Halaman                     : 192 Halaman

Harga                             : 35.000

        

          Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan. Begitulah sedikit kutipan dari buku karya S Gegge Mappangewa tersebut.

          Namun, bagaimana rasanya, bila musibah berupa kematian seorang ibu menimpa anak laki-laki? Bukan hanya itu, ayahnya yang dicintainya pun, turut mengalami depresi akibat kematian istrinya. Tentunya hal ini amat berat untuk dilewati. Namun, luka akan datang tanpa harus diundang.

         Buku Ayah Aku Rindu ini mengisahkan tentang perjuangan anak laki-laki dalam melewati luka dan duka kehidupannya. Rudi, sebagai tokoh dalam buku ini, harus tegar akan kematian ibunya. Ia pun harus berjuang untuk menyembuhkan ayahnya agar sembuh dari depresi yang dialaminya.

        Dampak depresi yang dialami oleh ayahnya membuat Rudi kian diejek oleh teman-temannya. Sapaan “anak orang gila” disematkan kepadanya. Namun, anak lelaki Pak Gilang itu tak menghiraunkan. Justru dirinya terus berusaha untuk mendekati ayahnya agar ingatannya cepat pulih. Tapi sikap kasar kerap kali didapatnya. Bahkan, hasrat membunuh kian memuncak, tiap kali sang ayah melihat putra tunggalnya itu.

          Pak Sadli juga mengalami hal serupa. Sikap kasar ayah Rudi juga dirasakan oleh guru Rudi tersebut. Depresi Pak Gilang membuat dua laki-laki di dekatnya itu, Rudi dan Pak Sadli menjadi sasaran ambisi untuk dihabisinya. Namun anehnya, sikap jahat ini hanya dilontarkan kepada mereka saja. Selain itu, ayah Rudi juga sering menyebut dirinya dengan “Nenek Mallomo”. Rudi pun semakin bingung dengan keadaan yang menimpa orang yang dicintainya itu. Opsi untuk dibawa ke Rumah Sakit Jiwa pun menjadi pilihan bagi lelaki yang sedang depresi itu. Walau Rudi sangat berat untuk menerima kenyataan tersebut.

Dari pemaparan di atas, maka timbul pertanyaan, siapa sebenarnya Nenek Mallomo itu? Mengapa hal ini bisa terjadi kepada Pak Gilang? Apakah ada kisah pahit yang dulu pernah dialaminya sehingga menyebabkan depresi yang sebegitu hebat?

         Bila kita berada di posisi Rudi, akankah kita menjauhi sosok ayah? Atau justru sebaliknya, menyayangi dan berusaha mendekat seperti halnya yang anak laki-laki itu lakukan?

Unsur budaya lokal juga sangat terasa dalam karya ini. Latar Kota Sidrap, Sulawesi Selatan dan kisah Nenek Mallomo menjadi kelebihan dari novel ini. Rasanya masih banyak yang belum tahu akan kota tersebut. Di tambah mitos yang diangkat dalam buku ini menjadi misteri yang patut untuk dibaca dan dituntaskan.

            Novel ini juga kaya akan misteri. Di mana keberadaan “Cincin Batu Sisik Naga” menjadi teka-teki yang menjadi kode untuk dipecahkan. Benda berharga itu milik ayah Pak Sadli. Semasa hidup, Pak Ramli dikenal sering berjudi dan menghabiskan harta keluarga. Semua barang-barang rumah habis terjual, kecuali cincin itu.

Di sisi lain, Rudi pun memiliki ketertarikan dengan cincin yang dikenakan oleh Pak Sadli itu. Hingga akhirnya anak Pak Ramli itu memberikan benda berharga itu kepada Rudi. 

            Beberapa kejadian di atas menjadi menarik untuk dibaca. Kenapa ayah Pak Sadli tidak menjual cincin itu? Walaupun harga yang disodorkan kepadanya mahal?

Begitu pula dengan Rudi, kenapa dirinya begitu tertarik untuk memiliki benda itu? Apakah ada keterkaitan antara dirinya dengan Pak Ramli?

          Penulis sangat piawai dalam menulis novel ini. Misteri yang dihadirkan sangat memacu diri untuk terus menelusuri akan jawaban dari teka-teki yang ada. Bahasa yang digunakan juga sangat luwes dan mengalir. Pembaca pun sangat dimanjakan untuk terus membaca cerita apik ini. Tiap halaman yang disuguhkan seakan membuat pembaca ingin terus membuka dan melanjutkan membaca novel karya Gegge tersebut.

            Tak heran bila buku ini bisa menjadi juara dalam kompetisi menulis Indiva tahun 2019. Alur cerita yang tak mudah ketebak, unsur budaya lokal yang diangkat sangat memikat, dan bahasa yang ringan dan mudah dipahami menjadi beberapa kriteria buku ini menjadi diunggulkan.

           Penulis mengajak kepada para pembaca agar senantiasa berbakti kepada ayah, walau orang yang disayang itu dalam keadaan depresi. Selain itu, kesabaran dan ketaatan kepada orang tua juga disuguhkan oleh penulis dan perlu dicontoh oleh remaja-remaja di negeri ini.

 

 

Biodata

Nama              : Endri Prasetyo

Akun Medsos

Instagram        :@endri.prastyo

Fb                    : Endri Prasetyo

Blog                 : wwwaksarahikmah.blogspot.com

No Hp              : 082298315332 

Rabu, 08 Juli 2020

Review Buku Bisnis


Review Buku “Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga”.


Untuk minggu ini, apakah kalian sudah membaca buku?
Bila belum terbiasa untuk membaca buku, saya menyarankan untuk membaca buku-buku yang ringan dulu. Mulai dari buku-buku fiksi, buku-buku non-fiski, atau komik.
Saya pribadi sih, cukup senang dengan buku-buku fiksi. Mulai dari kumpulan cerpen dan juga novel. Saya rasa, semua orang suka novel. Apalagi kaum hawa. Nah, saran saya, pilihlah novel yang punya nilai-nilai hikmah. kayak novel Kang Abik, Asma Nadia, Ma’mun Affany, dan masih banyak lagi.
Bulan ini, saya pun membeli novel “Ayah” dari Andrea Hirata dan “Gadis 12 Harakat” dari ma’mun Affany. Karena bagi saya, novel itu bahasanya simpel dan mudah untuk dipahami.
Selain buku-buku fiksi, saya pun juga suka buku-buku non fiksi. Di antaranya buku-buku dari Ahmad Rif’an Rifai. Tahu kan, siapa beliau?
Iya, benar. Buku-buku beliau sudah banyak banget. Saya pribadi pun juga mengoleksi buku-buku beliau. Seperti ketika Tuhan tak lagi dibutuhkan, menikahlah sebelum usia 30 tahun, dan juga saya pernah menulis antologi dengan beliau. Yang judul bukunya “Never Stop Trying”.
Tapi, kali ini, saya akan mengulas buku beliau yang bagi saya, cukup bagus bukunya. Karena bagi saya, judulnya pun sudah bisa memikat pembaca.
“Hidup kaya raya, mati masuk surge” judulnya menarik, kan?


Buku ini adalah buku yang mengisahkan akan perjalanan beliau membangun bisnis. Beliau pun bercerita bahwa beliau sudah mulai berbisnis sejak SMA. Di masa SMA, beliau pun sudah punya target, kalau hidup jangan biasa-biasa saja.
“Kemauan yang besar sering kali mengundang hadirnya kemampuan yang besar”. Ini adalah salah satu pepatah hikmah dalam buku tersebut. Saya pun setuju. Karena tanpa ada kemauan, maka tak akan ada kemampuan yang menepi di tubuh kita. Karena kemampuan itu akan muncul setelah adanya kemauan untuk berbuat.
Ada juga “Keberuntungan adalah perkawinan antara persiapan dengan momentum”. Ada yang beranggapan, kalau keberuntungan itu datang tak tertungga. Ini benar juga, tapi kata-kata Mas Rif’ai lebih tajam. Artinya, setiap orang harus menyiapkan segala apa yang dibutuhukan, terutama para pelaku usaha. Untung dan rugi adalah hal wajar. Tapi kalau rugi terus, itu yang nggak wajar.
Masa muda adalah masa yang penuh gejolak. Di mana semua potensi dapat dimaksimalkan. Saat ini, banyak banget pelaku-pelaku usaha dari kalangan milenial. Lihat aja Go-jek, Bukalapak, itu adalah pelaku-pelaku usaha dengan CEO anak-anak milenial. Jadi, nggak ada tuh anak-anak milenial nggak bisa bersaing di dunia usaha saat ini.
Tapi, saya sebagai praktisi pendidikan dan pelaku usaha, terkadang cukup miris melihat anak-anak saat ini. Kemanjaan masih banyak. Tak banyak yang bisa hidup mandiri. Orang tua sangat takut, jika anaknya berada di jurang kesusahan. Padahal, dalam pepatah Arab mengatakan, “Kenikmatan itu dirasakan setelah kelelahan”.
Hal ini tertulis di buku, “Silakan anak muda berpikir hal yang paling gila sekalipun tapi satu jangan pernah berhenti belajar”.
“Out of the Box”. Itulah semboyan generasi milenial yang kreatif.
Nah, di akhir buku pun, ada ajakan dari penulis untuk bekerja sekaligus beribadah. Mas Rif’ai menulis bahwa segala apa yang kita kerjakan itu tergantung kepada niatnya. bila niatnya baik, maka balasannya pun baik. tapi bila sebaliknya, ya pastinya, balasannya pun buruk.
Apa yang kita hasilkan pun harus dari hasil yang halal. Jangan kita bekerja dari hasil yang haram. Karena apa yang dikerjakan, akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Sudah saatnya, anak-anak sekarang itu, kreatif dalam berwirausaha. Jangan malah, sibuk mencari kerja. Lamar sana-sini, hanya bekerja tak lama. Udah bekerja lama, malah di PHK. Lagi-lagi, itu akan menambah nilai penggangguran yang ada. Sudah saatnya kita bangun usaha.

Jumat, 26 Juni 2020

Resensi Buku


Syukuri apa yang ada

Review Buku “Orang-Orang Biasa”

Gramedia.com

                 Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang sebuah buku fiksi yang cukup familiar di tengah-tengah para penikmat novel. Adapun novelis yang saya gemari bukunya, di antaranya Kang Abik, Ma’mun Affany, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Asma Nadia, dan masih ada beberapa lagi yang tak juga tak kalah hebat dengan para novelis tadi. Namun, pada kali ini, buku yang akan saya bahas adalah buku dari novelis asal negeri Melayu yang namanya pun tak asing di telinga kita. Karya-karyanya cukup banyak beredar di tengah-tengah kita. Bahkan, salah satu bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Mandarin, dan beberapa asing lainnya. Novelis tersebut adalah Andrea Hirata.
            Sepertinya yang saya ulas tadi, novel “Laskar Pelangi: menjadi daya tarik bagi para penikmat novel. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Bahkan, filmnya pun juga sudah diterbitkan ke dalam bahasa asing. Nah, tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, karena ada salah satu anak negeri yang karyanya sudah diakui oleh dunia luar. Bahkan, ada salah satu pembaca dari luar negeri sana yang baru tahu, bahwa di bumi ini ada negeri Indonesia. Negeri yang terkenal akan pesona alamnya. Kebanyangan nggak tuh, kalau nggak ada bukunya, sepertinya ia nggak tahu, di mana Indonesia. Hehe..

saungbelajaraisyah.blogspot.com
            Eits, tapi kali ini saya nggak akan membahas buku itu. Tapi buku lainnya yang menurut saya, biasa aja. Kok gitu? Ya..kalau dilihat dari judulnya sih, begitu. Karena yang membuat buku itu menarik, kan judulnya. Tapi nggak tahu sih isinya. Tapi setelah saya baca tuntas, ternyata pandangan saya berubah 360 derajat. Yah, inilah kehebatan penulis. Semua prediksi kita sirna. Karena ending dari buku tersebut, berbeda dari apa yang kita kira. Lalu, kira-kira gimana isi dari novel itu? Yuk, kita ulas di tulisan selanjutnya.
            Buku “Ordinary People” atau yang dikenal dengan Orang-Orang Biasa adalah buku karya Andrea Hirata yang diterbitkan pada tahun 2019 yang diterbitkan oleh PT Bentang Pustaka. Salah satu penerbit yang terletak di kota Yogyakarta. Kota yang menjadi primadona bagi para perantau penikmat seni dan ilmu. Nah, bila kalian ingin belajar bercerita dengan gaya Melayu, maka buku-buku Andrea Hirata bisa jadi referensinya seperti halnya buku ini.
            Selain kental dengan nuansa Melayu, kelebihan dari penulis ini adalah banyaknya tokoh dalam serial ceritanya. Seperti halnya di “Laskar Pelangi” yang sempat booming, di sana banyak sekali tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya. Walaupun Lintang dan Ikal yang menjadi tokoh penting dalam serial itu. Namun, peran pemain lainnya tidak boleh dilupakan. Inilah salah satu kejeniusan dari beliau, yang bisa memainkan banyak tokoh dalam ceritanya.
            Dalam buku “Orang-Orang Biasa” pun ada banyak tokoh, sebut saja ada Salud, Junilah, Sobri, Tohirin, Rusip, Nihe, Handai, Honorun, Dinah, dan Debut. Semua karakter ini orang-orang biasa. Bahkan, di bawah biasa. Sebut saja Sobri dan Honorun, kedua tokoh ini digambarkan sebagai tokoh yang lambat berfikir dan merupakan anak-anak yang pesimistis yang tak punya cita-cita. Sobri pun diceritakan sudah tiga kali tidak naik kelas dan dia pendiam. Dia diam bukan lantaran dia pendiam. Namun, kalau dia ngomong, nadanya sangat keras dan tak mengenakan telinga. Nah, kebanyakan gimana nggak tuh, karakter Sobri.
            Ada juga Rusip dengan karakter sebagai anak yang bodoh dan jorok. Ada Dinah, yang mengalami psikosomatis. Suatu gejala fisik akibat tekanan batin yang hebat. Setiap pelajaran Matematika, dia selalu sakit perut. Bahkan, sebelum gurunya masuk, dia selalu komat-kamit seperti orang baca doa tolak bala. Ada Nihe dan Junilah yang sukanya dandan, walaupun itu saat jam pelajaran. Untuk karakter lainnya, bisa dibaca bukunya yah.


            Suatu  ketika, mereka berencana untuk mencuri suatu bank untuk misi tertentu. Kebanyangan tuh, orang-orang kayak mereka mau merampok. Bahkan, mereka sampai rapat puluhan kali untuk misi ini. Yang hasil rapatnya pun nggak ada. Ketika kita baca di part ini, mungkin akan timbul di benak kita, “Paling nggak berhasil.” Itu yang saya pikirkan. Namun, ternyata semua berbeda, ketika mereka sudah melakukan aksi di bank yang mereka tuju. Kok bisa? Silakan dibaca aja yah.
            Tim mereka terbagi menjadi dua. Tim pertama, bertugas untuk merampok bank. Dan tim kedua bertugas menggarang toko emas. Keduanya pun berhasil dengan cara merampok yang unik. Kenapa begitu? Walau mereka berhasil mencuri uang di bank, tapi mereka tak mengambil uang tersebut. Aduhh, nggak kebayang deh, cara berfikir mereka. Begitu pula pencurian di toko mas. Walau mereka berhasil menggarangnya, tapi uang yang diperoleh, bukan untuk mereka. Lalu untuk siapa? Ups, baca bukunya ya!
            Nah, pesan moral yang bisa kita ambil dari buku ini adalah mensyukuri apa yang ada. Menusia tercipta sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Yang kurang adalah manusia itu kurang mensyukuri akan segala hal yang ia terima. Dalam buku ini, kita akan bisa menyadari bahwa mereka, Sobri dkk hanyalah orang-orang biasa. Namun, mereka menjalani hidup dengan cara mereka tanpa mengkufuri apa yang telah mereka miliki. Dan jangan pernah membandingkan apa yang kita miliki dengan yang orang lain miliki. Karena semuanya sudah sesuai dengan kadar kebutuhan yang kita hadapi.




Senin, 27 April 2020


                                                      Penulis : Habiburrahman el shirazy

                                                                  Penerbit : Republika

          Kali ini, saya akan bahas tentang karya terbaru Kang Abik. Sebuah novel dengan genre Islami yang menjadi ciri khasnya. Ya hampir seluruh novelnya bernafaskan tentang nilai-nilai Islam. Mulai dari ayat-ayat cinta, bumi cinta, api tauhid, merindu baginda nabi, dan lain-lainnya.

           Sepintas ketika saya membaca sinposis, ternyata lanskap cerita dalam novel ini berada di kota Lampung. Lebih tepatnya di sebuah desa dekat Gunung Pesagi. Walau belum pernah ke sana, setidaknya saya sudah bisa membayangkan akan pemandangan di sana. Karena film "Atap Negeri" karya Fiersa Besari juga menceritakan akan indahnya pesona Gunung Pesagi. Yaitu gunung yang menjadi puncak tertinggi di provinsi ini. Yang belum lihat, dilihat yah!

           Seorang pemuda dengan bekal agama yang baik selalu beliau hadirkan dalam setiap karyanya.  Termasuk dalam buku ini. Ya dialah Ridho, sosok pemuda yang sempat menimba ilmu di sebuah pesantren di Kota Cirebon. Namun, selain dia, ada juga sosok Syifa, gadis remaja yang sekaligus menjadi adik sepupunya. Alur cerita novel ini, banyak dimainkan oleh kedua tokoh ini. 

        Syifa adalah gadis remaja yang hidupnya dengan adiknya, Lukman. selain itu, dia juga hidup bersama dengan nenek dan kakeknya. Namun, kakeknya yang dulu menjadi penompang hidupnya sakit. Hingga akhirnya dialah yang harus menggantikannya. Dirinya pun harus berhenti sekolah dan berjuang untuk bekerja karena harus menafkahi keluarganya. Sementara Ridho, dirinya yang sedang menimba ilmu, tiba-tiba gurunya, Kyai Nawir menyuruhnya pulang. Atas dasar apa dia pulang? Apakah dia melakukan kesalahan hingga akhirnya dipulangkan?

         Kisahnya pun masih berlanjut, di mana penulis menambahkan tokoh pembantu, di sana ada Bu Rosma, Sita, dan Lina. Mereka adalah keluarga kaya dengan bisnis kopi yang besar di provinsi ini. Sita adalah pemilik saham dari perusahaan ini. Dan Lina adalah adiknya yang bersatus sebagai mahasiswi kedokteran di Unila. Sedangkan Bu Rosma adalah ibu dari mereka. Lalu siapakah ayahnya mereka?

        Dan masih banyak tokoh-tokoh lain. Seperti Diana, Kyai Sobron, Gus Najib, Cak Rosyid dan lain-lainnya. Mereka juga memiliki peran tersendiri dalam mengaluri cerita ini. 

          Inilah sekilas dari buku "Kembara Rindu". Selebihnya bisa dibaca sembari menikmati masa-masa isolasi diri. Terus berfikir positif dan jaga kesehatan agar kita semua bisa terus berbuat demi hidup yang lebih baik.


Minggu, 11 Agustus 2019



Nama Buku        : Tiga Ibu Kita
Penulis                : Fiersa Besari
Penerbit              : Mediakita

Cetakan               : 2017

          Apakah kamu termasuk seorang traveler? Atau seorang pecinta alam yang telah menaklukan puluhan gunung di negeri ini? Jika iya, maka rasanya buku ini tidak asing oleh kalian. Karena sosok penulis sudah familiar di kalangan para pecinta alam ataupun para traveler.
            Konspirasi alam semesta merupakan salah satu karya tulis dari seoang fiersa besari. Buku ini mencerikan tentang sosok dua pemuda yang dicandu oleh cinta asmara. Mereka adalah Juang Astrajingga dan Ana Tidae. Juang adalah sosok pemuda yang memiliki jiwa petualang, seorang jurnalis lepas, dan tipe cowok romantic tanpa pandai menggombal. Sedangkan ana adalah cewek cantik yang berhasil menembus relung hati, bagi siapa aja cowok yang berada di dekatnya, termasuk Juang dan kang Deri.
            Entah mengapa, ana yang sebelumnya melabuhkan hatinya di hati kang Deri. Perlahan berpindah dan bersimpuh di landasan Juang. Di pelukan juang, ana merasa mendapatkan ketenangan, kenyamanan, dan keisntimewan yang ana sendiri tidak ia dapatkan saat bersama kang Deri. Walaupun kang Deri sendiri, masih berusaha untuk berupaya untuk mendapatkan cinta dari Ana Tidae.
            Kisah kesetian Ana pun diuji, tatkala proposal penelitian Juang diterima. Ia mengajukan penelitian akan fenomena social yang ada di bumi Cendrawasih. Dan ia harus meninggalkan Ana Tidae dalam beberapa bulan ke depan. Hanya kesetiaan dan kesabaran yang bisa Ana andalkan demi menguatkan cinta keduanya. Dan di bagian ini. Kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya fenomena social saudara- saudara kita yang ada di Indonesia bagian timur. Mulai dari Sorong, Raja Ampat, Kaimana, Manokwari dan Yapen.
            Namun perihal di atas belum seberapa, ujian besar yang selanjutnya menimpa Ana Tidae adalah tatkala dirinya di vonis mengindap penyakit tumor otak. Dan dia harus berjuang tanpa ditemani sosok Juang. Di sisi lain, Juang tak tahu akan penyakit yang diderita oleh Ana tidae. Dirinya melarikan diri ke pulau Nias untuk menyelesaikan beberapa tugasnya sembari menghapus panah cemberu lantaran ia melihat Ana dipeluk oleh Deri beberapa hari yang lalu.
            Cinta penuh ujian. Kalimat tersebut seakan menjadi gambaran novel ini. Tatkala, penyakit ana sembuh. Ujian yang selanjutnya adalah tatkala Juang harus berkunjung ke Sinambung. Area yang penuh dengan bahaya terutama area pegunungannya. Dan di saat itu pula, ana sedang mengadung janin dari Juang. Dan di bagian ini ada pilihan diksi yang saya suka
            “ hatiku memang akan senantiasa terbagi untuk tiga perempuan. Ibu, yang keindahannya terukir abadi. Kau, calon ibu untuk anak- anakku kelak. Dan Ibu pertiwi, yang memberikan kebaikannya lagi dan lagi, menelantarkan salah satu dari kalian hanya akan menyakitiku.”
            Walau pada akhirnya, takdir tuhan tidak bisa dipilih. Rasa sakit justru yang Ana terima. Lantaran Juang kembali kepangkuan bukan berupa jasad, namun berupa mayat.
            Novel ini sangat ringan untuk dibaca. Mulai anak remaja, pemuda, bahkan bagi sepasang kekasih yang sedang mengalami LDR (Long Distance Relationship). Buku ini seakan menjadi teman dikala senja untuk menikmati diksi- diski indah yang tak pudar oleh panjangnya tulisan. Pembaca seakan terhanyut dalam arus cerita yang dibuat oleh penulis. Cerita cinta yang dibalut oleh diksi- diksi indah dalam nuansa alam nusantara


     
Nama buku  : Disruption

Penulis           : Rhenald K

Penerbit        : Pt Gramedia P

            
Berbicara masalah ekonomi, maka akk terlepas dari sosok Rhenald kasali. Beliau dikenal sebagai guru besar fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Indonesia. Di samping itu, beliau juga dikenal sebagai tokoh pelopor rumah perubahan. Yaitu suatu wadah yang menaungi para kaum muda untuk turut berperan aktif terhadap perubahan social yang terjadi di negeri ini khsusunya masalah ekonomi yang kerap kali berubah karena factor factor yang tak tersadari.
Dinamika kehidupan manusia tidaklah berjalan lurus sebagaimana apa yang mereka pikirkan. Begitu halnya dengan dinamika ekonomi bisnis. Bagi pengusaha, keuntungan tidaklah menjadi nilai mutlak dalam berbisnis. Adakala mereka merugi, dan adakalanya mereka untung. Sebuah system yang baik adalah system yang dapat menyesuai dengan tuntunan zaman dan dapat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Maka, filosofi roda berputar sejatinya sesuai dengan mekanisme kehidupan pengusaha. Seorang pengusaha haruslah memiliki inovasi dan kreatifitas dalam menciptakan system yang baik dalam berbisnis. Agar produk- produk mereka bisa tetap eksis dan bertahan di tengah- tengah masyarakat.
Maka bagi para incumbent, harus selalu waspada akan munculnya produk- produk baru. Suatu gerakan massif yang tak terlihat menjadi musuh bagi para incumbent. Mereka bergerak seakan akan terbebas dari aturan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bahkan regulator hanya duduk terdiam tak bisa membendung pergerakan mereka. Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para incumbent, karena secara aturan, para incumbent masih terlibat rumit dibanding dengan para pendatang baru. Dan secara realita, para incumbent masih lemah terhadap ancaman pendatang baru. Siapa pun yang bermental penumpang dan menunggu akan semakin cepat tergusur dari siklus yang ada.  
            Perihal di atas, adalah bentuk dari disruption. Dan pertanyaannya, apa itu disruption?
           Disruption adalah sebuah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh system lama dengan cara cara baru. Disruption berpotensi mengagantikan pemain pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar- benar baru dan lebih efesien, juga lebih bermanfaat. Mengutip kata- kata dari Clayton Christenses bahwa disruption menggantikan pasar lama industry, dan teknologi serta menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efesien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative.
Blue bird dan nokia merupakan beberapa produk yang mengalami kemunduran dalam persaingan usaha. Hal ini dikarenakan adanya system yang lebih baik dibandingkan dengan system yang mereka tawarkan. Blue bird seakan akan hanya menjadi penonton bagi pendatang baru. Bahkan di tahun 2016, pendapatan mereka turun dratis dibandingkan dengan tahun- tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan berpindahnya minat masyarakat dari transportasi konvensional ke transportasi online. Selain murah, pelayanan trasnportasi online juga lebih menjanjikan dibanding dengan transportasi konvensional. Begitu pula dengan nokia, penjualan mereka juga mengalamai penurunan. Adanya androit menjadi salah satu factor menurunnya penjualan produk nokia. Dari kedua contoh ini, dapat disimpulkan bahwa kejayaan pengusaha tak selamanya stagna di atas.
            Kalau mau diperinci, ada beberapa pendatang baru yang kian membesar. Seperti di bidang e commerce ada buka lapak, tokopedia. Kedua pemain ini berperan sebagai pihak yang mempertemukan antara para pelaku UMKM dengan para konsumen yang sedang mencari barang. Harus diakui, secara produksi UMKM, bangsa ini cukup baik. Namun secara pemasaran, masih sangar kurang. Maka, peran e commerce seakan akan menjadi jawaban atas doa- doa bagi para UMKM. Siapa yang melek teknologi, dia lah pemenangnya. Mungkin inilah kenyataan. Semua bergerak cepat. Kecepatan nya pun hampir tidak bisa dirasakan, apalagi dilihat. Dan ini hanya disadari oleh kaum milineal. Mereka bekerja hanya bermodal gadget atau laptop dengan ditambah wifi dengan kapasitas yang memadai. Maka tak heran, jika kehidupan era milenial sekarang sangat dekat dengan gadget.
Adanya revolusi perabadan menjadi ancaman besar bagi para Incummbent untuk menaikan kejayaannya. Dibutuhkan suatu Kolaborasi untuk menjadikan usaha para Incumbent bisa bertahan. Perubahan economic capital adam smith seakan sirna dan berubah menjadi system economy sharing yang menguntungkan bagi semua para stakeholder.
                Buku ini adalah salah satu buku yang mengagas akan perubahan arah berfikir dalam berbisnis. Tak hanya bagi kalangan pengusaha, buku ini juga layak dibaca untuk semua pegiat akademis ataupun praktisi. Dan jangan pernah berfikir bahwa suatu peradaban tidak akan pernah sirna, walau tidak ada kesalahan disana. Sebagaimana Stephen Elop ( nokia) berkata :” kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tiba- tiba kami kalah dan punah”