Judul Resensi :
Walau Berbeda, Dia Tetap Ayahku
Nama Buku
: Ayah Aku Rindu
Penulis :
S Gegge Mappangewa
Penerbit
: Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit :
2020
Halaman :
192 Halaman
Harga :
35.000
Luka, duka, derita, tak menunggu orang
dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa
kedewasaan. Begitulah sedikit kutipan dari buku karya S Gegge Mappangewa
tersebut.
Namun,
bagaimana rasanya, bila musibah berupa kematian seorang ibu menimpa anak
laki-laki? Bukan hanya itu, ayahnya yang dicintainya pun, turut mengalami
depresi akibat kematian istrinya. Tentunya hal ini amat berat untuk dilewati.
Namun, luka akan datang tanpa harus diundang.
Buku
Ayah Aku Rindu ini mengisahkan tentang perjuangan anak laki-laki dalam melewati
luka dan duka kehidupannya. Rudi, sebagai tokoh dalam buku ini, harus tegar
akan kematian ibunya. Ia pun harus berjuang untuk menyembuhkan ayahnya agar
sembuh dari depresi yang dialaminya.
Dampak
depresi yang dialami oleh ayahnya membuat Rudi kian diejek oleh teman-temannya.
Sapaan “anak orang gila” disematkan kepadanya. Namun, anak lelaki Pak Gilang
itu tak menghiraunkan. Justru dirinya terus berusaha untuk mendekati ayahnya
agar ingatannya cepat pulih. Tapi sikap kasar kerap kali didapatnya. Bahkan,
hasrat membunuh kian memuncak, tiap kali sang ayah melihat putra tunggalnya
itu.
Pak
Sadli juga mengalami hal serupa. Sikap kasar ayah Rudi juga dirasakan oleh guru
Rudi tersebut. Depresi Pak Gilang membuat dua laki-laki di dekatnya itu, Rudi
dan Pak Sadli menjadi sasaran ambisi untuk dihabisinya. Namun anehnya, sikap
jahat ini hanya dilontarkan kepada mereka saja. Selain itu, ayah Rudi juga
sering menyebut dirinya dengan “Nenek Mallomo”. Rudi pun semakin bingung dengan
keadaan yang menimpa orang yang dicintainya itu. Opsi untuk dibawa ke Rumah
Sakit Jiwa pun menjadi pilihan bagi lelaki yang sedang depresi itu. Walau Rudi
sangat berat untuk menerima kenyataan tersebut.
Dari
pemaparan di atas, maka timbul pertanyaan, siapa sebenarnya Nenek Mallomo itu?
Mengapa hal ini bisa terjadi kepada Pak Gilang? Apakah ada kisah pahit yang
dulu pernah dialaminya sehingga menyebabkan depresi yang sebegitu hebat?
Bila
kita berada di posisi Rudi, akankah kita menjauhi sosok ayah? Atau justru
sebaliknya, menyayangi dan berusaha mendekat seperti halnya yang anak laki-laki
itu lakukan?
Unsur
budaya lokal juga sangat terasa dalam karya ini. Latar Kota Sidrap, Sulawesi
Selatan dan kisah Nenek Mallomo menjadi
kelebihan dari novel ini. Rasanya masih banyak yang belum tahu akan kota
tersebut. Di tambah mitos yang diangkat dalam buku ini menjadi misteri yang
patut untuk dibaca dan dituntaskan.
Novel
ini juga kaya akan misteri. Di mana keberadaan “Cincin Batu Sisik Naga” menjadi
teka-teki yang menjadi kode untuk dipecahkan. Benda berharga itu milik ayah Pak
Sadli. Semasa hidup, Pak Ramli dikenal sering berjudi dan menghabiskan harta
keluarga. Semua barang-barang rumah habis terjual, kecuali cincin itu.
Di sisi
lain, Rudi pun memiliki ketertarikan dengan cincin yang dikenakan oleh Pak
Sadli itu. Hingga akhirnya anak Pak Ramli itu memberikan benda berharga itu
kepada Rudi.
Beberapa
kejadian di atas menjadi menarik untuk dibaca. Kenapa ayah Pak Sadli tidak
menjual cincin itu? Walaupun harga yang disodorkan kepadanya mahal?
Begitu
pula dengan Rudi, kenapa dirinya begitu tertarik untuk memiliki benda itu?
Apakah ada keterkaitan antara dirinya dengan Pak Ramli?
Penulis
sangat piawai dalam menulis novel ini. Misteri yang dihadirkan sangat memacu
diri untuk terus menelusuri akan jawaban dari teka-teki yang ada. Bahasa yang
digunakan juga sangat luwes dan mengalir. Pembaca pun sangat dimanjakan untuk
terus membaca cerita apik ini. Tiap halaman yang disuguhkan seakan membuat
pembaca ingin terus membuka dan melanjutkan membaca novel karya Gegge tersebut.
Tak
heran bila buku ini bisa menjadi juara dalam kompetisi menulis Indiva tahun
2019. Alur cerita yang tak mudah ketebak, unsur budaya lokal yang diangkat
sangat memikat, dan bahasa yang ringan dan mudah dipahami menjadi beberapa
kriteria buku ini menjadi diunggulkan.
Penulis
mengajak kepada para pembaca agar senantiasa berbakti kepada ayah, walau orang
yang disayang itu dalam keadaan depresi. Selain itu, kesabaran dan ketaatan
kepada orang tua juga disuguhkan oleh penulis dan perlu dicontoh oleh
remaja-remaja di negeri ini.
Biodata
Nama :
Endri Prasetyo
Akun Medsos
Instagram :@endri.prastyo
Fb :
Endri Prasetyo
Blog :
wwwaksarahikmah.blogspot.com
No Hp : 082298315332








