Selasa, 28 Juli 2020

Khazanah Islam

Bulan Bersinar di Bumi Eropa

            Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat jelas.

           Korban-korban berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.

             Namun, di sisi lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.

           Menurut Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin Konstantinopel.


            Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini, tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.

               Sontak, ini menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.

      Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)

       Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

              

         Waktu yang dibutuhkan oleh umat Islam untuk menaklukan bumi Turki sangat lama. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan pernyataan Rasul di atas. Di tahun 6 H, Rasulullah pernah mengirim sebuah surat kepada Heraklius yang isinya adalah ajakan untuk masuk Islam. Tapi, beliau menolaknya. Namun, saat ini, di dalam benaknya ada firasat, bahwa kelak Islam akan bisa menduduki bumi yang dipijaknya saat ini.

            Selepas perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah banteng Konstantinopel.

                Nafas kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota Umat Islam.  Dan kini, kita semua bisa melihat itu semua.

                Sinar bulan kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.


Jumat, 24 Juli 2020



Cara Mengelola Keuangan di tengah Krisis Pandemi

        Setiap manusia memiliki beban hidup yang berbeda. Begitu pula dengan cara menyelesaikannya. Ada yang diberi ujian ringan, dia dengan mudah menyelesaikannya. Namun, ada yang diberi ujian berat, dia juga tak mengeluh untuk menyelesaikannya.  Ujian yang telah Allah berikan, sejatinya adalah sesuai dengan kadar kemampuan hambanya. Tak ada ujian tanpa adanya solusi.

         Saat ini, Allah sedang menguji kita dengan virus corona. Wabah ini menyerang semua kalangan. Baik anak-anak, dewasa, hingga lansia merasa khawatir akan keberadaan wabah ini. Ketakutan di mana-mana. Bahkan, sebagian orang ada yang membatasi aktivitasnya. Seperti pembelajaran jarak jauh bagi murid sekolah dan gurunya. Dan ada juga Work From Home bagi sebagian yang bekerja di sektor formal.
            Pemberitaan di media pun banyak yang berisikan akan krisis ekonomi. Di sektor ekonomi banyak sekali perusahaan yang memberhentikan karyawan. Hal ini membuat sebagian orang-orang tidak memiiliki penghasilan. Ada yang merubah pola hidupnya. Yang biasanya berfoya-foya, kini lebih berhemat. Ada juga yang masih mengandalkan bantuan social dari pemerintah. Perputaran ekonomi tak berjalan stabil.
            Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) membuat ekonomi berjalan lambat. Bahkan, pembatasannya pun mulai berdampak pada masyarakat. Ojek online tidak boleh mengambil penumpangnya, rumah makan ditutup, dan pasar-pasar pun dibatasi jam kerjanya. Bahkan, yang lebih mirisnya lagi, banyak karyawan yang diberhentikan lantaran lesunya aktivitas ekonomi. Maka, sebelumya kondisi makin terpuruk, perluanya membangun mental juang demi bisa melawan keadaan yang tak mengenakan ini. Dibutuhkan strategi agar kehidupan ini berjalan dengan baik, seperti halnya hal-hal di bawah ini:
1. Membiasakan untuk berhemat
Bagi kalian yang pola hidupnya boros, mewajibkan hidup untuk berhemat itu tak mudah. Kebiasaan boros itu membuat kondisi saat ini tidak cocok. Kalian harus benar-benar mengatur keuangan agar bisa stabil. Terlebih bagi pelaku UMKM yang pendapatannya tak menentu. Dibutuhkan strategi yang jitu akan usahanya tetap berlanjut. 


Bagi pelaku usaha, marginal cost yang dibutuhkan harus diperhitungkan. Hal ini tentunya akan berdampak bagi produknya yang dihasilkan. Misalkan, bila sebelum pandemic, terbiasa menggunakan kemasan yang mahal, kini dirubah ke kemasan yang standar. Namun, yang perlu diperhatikan adalah produk yang jual tetap bernilai, walau ada beberapa komponen yang dikurangi.
2. Menabung untuk Dana Darurat
Dana tabungan darurat adalah satu opsi yang bisa diandalkan saat kalian berada di posisi yang mendesak. Dana ini digunakan bila kalian menghadapi situasi yang tak pernah terpikirkan. Seperti hal wabah corona ini. Semua orang tak pernah menyangka bahwa wabah ini akan berdampak serius bagi semua orang.
Kalian harus memisahkan antara dana harian dengan dana darurat. Dana harian digunakan untuk pengeluaran harian atau bulanan. Namun, dana darurat itu lebih dijaga dan disimpan. Dan dana ini digunakan bila kalian menemui situasi yang sudah mendesak. Dengan begitu, kalian bisa bernafas sejenak di saat kondisi seperti ini.
3. Investasi yang aman

Ombak pandemic corona membuat para investor membidik instrumen yang lebih aman. Sahan dan redaksana yang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, kini cenderung melemah. Karena mereka berspekulasi bahwa saat ini, kedua instrument ini lebih rentan merugi. Dan para investor cenderung menahan dananya karena kondisi ekonomi yang belum stabil.
Di saat ini, instrument yang aman untuk berinvestasi adalah menyimpan emas. Kalian cukup membelinya, lalu menyimpannya. Adapun lamanya, kalian bisa menyimpannya paling tidak lima tahun. Lalu setelah itu terserah kalian, mau menjualnya kembali atau tetap menyimpannya. Maka, tak heran bila harga emas saat ini melonjak tinggi. Bahkan, untuk harga satu gram saat ini berada di kisaran satu juta perkeping.

Dari poin-poin di atas, perlunya menanamkan pola pikir positif dan rasa optimis menghadapi situasi yang krisis ini. Di tahun 1998, negara ini juga mengalami krisis ekonomi. Namun, perlahan bangsa ini mampu untuk melaluinya. Bahkan, IMF (Internasional Monetery Federation) memprediksi bahwa bangsa ini termasuk dalam negara yang selamat dari krisis ekonomi. Walau angka yang ditunjukan masih terbilang kecil.

Rabu, 22 Juli 2020


Sudahkah Kalian Menerapkan Growth Mindset?
 Setiap manusia memiliki kemampuan yang beragam dalam mengisi kehidupannya. Seorang penulis, dirinya akan senang dengan dunia literasi. Seorang pembisnis akan bergelut dengan serangkaian kegiatan bisnisnya. Seorang guru akan menikmati dunia pendidikan berinteraksi dengan anak muridnya dan lain sebagainnya.

        Mereka yang telah nyaman dengan profesinya, tidak serta merta meraihnya dengan duduk-duduk manis saja. Perlunya usaha dan kesungguhan demi menempuhnya. Jatuh bangun dalam meniti karir perlu dilalui. Hinaan pun tak luput dari orang-orang yang tak suka dengan usaha mereka. Namun, mereka bisa bangkit untuk terus menatap masa depan. Mereka itulah yang memiliki cara berfikir yang berkembang atau growth mindset. Yang mana mereka melihat kegagalan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai suatu proses dalam pencapaian karir yang akan dicapainya.
         Mengutip dari Kompasiana, growth mindset adalah tipikal orang yang tidak mudah menyerah. Mereka melihat bahwa kelemahan yang dimilikinya bukanlah sebagai suatu kekurangan. Karena suatu titik kesuksesan bukan hanya ditempuh melalui satu jalan, melainkan bisa dilalui dari puluhan jalan. Dan mereka menyakini bahwa kemampuan seseorang itu dinamis. Artinya semua bisa dipelajari. kegagalan yang dialami bisa diperbaiki. Karena kegagalan itu bukan aib. Melainkan proses untuk terus berkembang.
      Pola pikir seperti ini perlu diterapkan agar rutinitas yang kita miliki bernilai dan bermanfaat. Tentunya, diperlukan latihan dan kedisiplinan agar terbentuk cara berfikir yang berkembang. Berikut adalah tips dari kami agar kalian bisa memiliki growth mindset dalam kehidupan kalian.
1.      Jangan mudah menyerah
Rasa putus asa haruslah dibuang jauh-jauh. Tanamkanlah rasa optimis dan tak mudah menyerah dalam diri kita. Seorang pejuang tak akan menyerah bila belum menyelesaikan misinya. Begitu pula kita, pantang menyerah sebelum tujuan yang kita inginkan dapat diraih.
Buatlah target tahunan, bulanan, mingguan dalam diary kalian. Lalu buatlah langkah-langkah untuk menggapainya. Bila menemui kesulitan, cobalah istirahat sejenak dan meminta saran kepada ahlinya agar menemukan titik terang dalam penyelesainya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat.
2.      Memanfaatkan peluang baru
Seorang yang cerdas adalah mereka yang bisa melihat peluang kebaikan di depannya. Dan itu tak mungkin ditemukan, bila kita memiliki sifat “Block Mind” atau menutup diri dan sulit menerima masukan dari orang lain.
Seorang pembisnis yang handal, ia akan bisa memanfaatkan situasi yang ada di sekitarnya. Misalkan, saat ini terjadi pandemic, ia akan dengan cepat beradaptasi mengubah model usahanya. Dari yang sebelumnya ofline, kini harus online. Dan pantang bagi pembisnis untuk pesimis. Ia harus optimis. Karena rasa ini akan membangun pola pikir yang positif bagi dirinya.
3.      Menyukai tantangan
Bila menemukan tantangan dalam dunia pekerjaan, responslah dan terimalah dahulu. Masalah cara penyelesaian, singkirkan dahulu. Umumnya, orang lain akan berfikir, “kira-kira saya bisa nggak yah?” bila kalian masih berfikir seperti ini, maka level kalian belum meningkat.
Orang yang berani menerima tantangan, cenderung berfikir dua kali lipat. Pertama, berfikir untuk mengambil tantangan itu. Kedua, berfikir bagaimana cara untuk menyelesaikannya. Bila kalian sudah di titik ini, perlahan cara berfikir kalian sudah berkembang dan bersykurlah.
4.      Sabar dalam bertindak
Tidak semua orang bisa sabar dalam bertindak. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya, tatkala ia sedang marah. Hal ini pun sejatinya harus ada dalam diri kita. baik dalam interaksi social, ibadah, dan karir.
Seorang yang sedang menata karirnya, dirinya harus melalui proses yang tak mudah dan panjang. Dan ini harus memiliki kesabaran yang kuat agar segala prosesnya ada harus dilaluinya, bisa dilewatinya dengan baik.
 Jangan sampai kalah dengan pencuri. Mereka aja bisa sabar ketika beraksi, masak kita enggak. Padahal perbuatan mereka itu buruk, harusnya kita yang berbuat baik, harus memiliki kesabaran yang kuat. Jangan malah lembek dan menyerah dalam berproses.
5.      Bertemanlah dengan teman yang memiliki satu frekuensi
Lingkaran pertemanan menjadi hal penting dalam merubah pola pikir seseorang. Mereka yang suka menulis, tentunya memiliki komunitas dalam menulis. Mereka yang suka bisnis akan lebih senang berkumpul dengan para pembisnis. Yang suka bermain game, obrolan di kalangan mereka, tentunya seputar game.
Bila ingin memiliki growth mindset, carilah orang-orang yang satu fekuensi dengan kalian. Jangan malah bergambung dengan orang-orang yang menjatuhkan mental kalian. Adanya teman yang satu frekuensi, akan menjadikan diri kita semangat untuk terus meningkatkan kemampuan. Karena mereka memiliki tujuan dan goal yang sama.
Setiap manusia memiliki waktu yang sama. Namun, setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memanfaatkan waktu yang dimiliki. Gunakanlah growth mindset agar hidup kalian lebih bermakna. Karena hidup ini adalah anugrah Tuhan yang mesti disyukuri dan dinikmati.

Jumat, 10 Juli 2020

Explore Indonesia


Tanah Padandayan
        Kemarin, kita telas ulas tentang indahnya dataran tinggi Dieng, salah satu dari destinasi wisata asal Jawa Tengah. Indah, cantik, dan mempesona bisa disematkan kepada wilayah tersebut. Bahkan, masih banyak lagi pujian yang menurut saya, pantas disandang. Pokoknya, rugi deh kalau kalian belum pernah ke sana.
            Nah, kali ini, kita masih akan mengulas tentang destinasi pengunungan juga.
            Kok gunung lagi sih? Pasti ada berpikiran begitu yah?
         Sejujurannya, saya memang senang naik gunung. Eits, hanya senang yah. Bukan hobi. Karena di sana, saya lebih merasa menjadi diri saya pribadi.
Di gunung, mau enggak mau, kita harus saling membantu. Teman kelelahan, kita tunggu. Kita kelelahan, mereka menunggu. Seakan itu seperti magnet yang saling berketaitan.
            Bila di gunung saja, kita bisa saling membantu. Mengapa dalam kehidupan sehari-hari, kok jarang banget yah? Tetangga rumah kesulitan, kadang-kadang cuek. Bahkan, sampai nggak tahu. Kalau hidup di kota sih, masih wajar. Karena siklus kehidupannya, berangkat pagi pulang malam. Pas weekend, maunya rebahan. Jadi, kalau nggak ada niat keluar rumah, mana tahu kondisi tetangga. Tapi tetep yah, itu nggak bagus. Sudah semestinya, kita harus tahu kondisi tetangga kita. karena bagaimana pun, mereka adalah saudara tak seibu yang berada paling dekat dengan kita.
            Dari situ, saya mulai merasa, kalau ingin melihat teman kita baik sama kita, coba ajakin naik gunung. Kalau egois, nanti ketahuan deh sifatnya. Tapi, kalau dia nggak mau, jangan dipaksa. Nanti kalau dipaksa, jadi malah beban buat kita.


       Balik lagi yah, seputar destinasi pegunungan. Kali ini, saya akan mengulas gunung yang tingginya sih, nggak terlalu tinggi sih. Pokonya cocok deh, buat pemula. Selain itu, jalannya pun sudah dirapihin. Karena gunung itu sudah dijadikan kawasan wisata. Jadi akses pendakiannya pun, terbilang cukup terawat.
        Kala itu, saya berangkat dari Bekasi bersama lima orang teman. Sebenarnya berenam, yang satu lagi, katanya menyusul. Karena masih ada rapat di kantornya.
Kami pun memutuskan untuk berangkat di Jumat sore dengan bis menuju ke Garut. Sesampainya di Garut, kami istirahat di terminal sambil menunggu waktu fajar datang. bersih-bersih dulu, biar kelihatan agak rapih.
Mentari pun sudah menyapa. Kami pun mulai mencari angkot yang akan membawa kami ke kawasan Gunung Papandayan. Sang kenek pun menawari kami untuk menaiki angkot miliknya. Setelah melakukan negoisasi, kami pun setuju dengan harga yang ditawarkan. Ternyata, kami diantar bukan di titik simaksi.
“Kalau mau ke simaksi, naik mobil jip itu, Kang,” jawab salah satu kenek angkot yang tadi kami menaikinya.
Sebelum beranjak ke mobil jip, kami pun hampir ke warung untuk sarapan. Tak lupa, kami juga membungkus nasi untuk bekal makan malam. Karena kami memang sengaja nggak bawa beras. Kami hanya membawa makanan siap saji yang nantinya hanya tinggal dipanaskan. Jadi gas yang dibutuhkan tidak banyak.
Welcome, papandayan!!
Sebelum kami masuk, kami pun membayar karcis. Saat itu, setiap orang dikenai 65.000. Menurut kalian, mahal nggak? Kalau menurut saya sih wajar. Karena wilayah ini sudah dikelola oleh beberapa pihak. Kalau masih dikelola oleh penduduk sekitar, mungkin nggak sebesar itu.
Oke, lanjut. Kami pun nggak melanjutkan pendakian. Karena salah satu teman kami, katanya mau menyusul. Akhirnya, kami pun menunggunya di pos yang ada di dekat pintu masuk. Menjelang siang, dirinya pun datang. Dan akhirnya, pendakian pun dimulai.
Tak butuh waktu lama. Kurang lebih dua jam kami sudah mencapai area camp, Pondok Saladan. Di sana sudah berdiri beberapa tenda. Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. Kami pun memilih area yang datar untuk pendirian tenda. Magrib pun telah tiba, tenda pun telah berdiri. Suasana malam menjadi berbeda di malam itu. Yang biasanya, suara knalpot selalu tergiang, saat itu, nampak tenang.

Pagi hari, kami pun mengujungi hutan mati. Ini adalah spot yang banyak dikunjungi oleh para traveller. Kondisinya, benar-benar seperti hutan yang mati. Jadi nggak salah deh, jika dinamai “Hutan Mati”. Kami pun berfoto-foto di sini, sebelum nantinya kami akan menuju ke area Bungan edelwies. Iya, di Papandayan juga ada spot yang menarik, yaitu taman ederlwies. Di sana, bunga-bunga indah banget buat dijadikan background poto. Nggak sia-sia deh, jika kalian ke sini.
Menjelang dhuha, kami pun merapikan tenda dan berkemas untuk turun gunung. Estimasi jika kami turun di waktu dhuha, kami akan tiba di terminal, saat sore hari. Lalu naik bis arah Bekasi dan tiba di kota kami pada malam hari.
Sedikit dari pengalaman saya, saat jalan-jalan ke Garut. Nggak salah deh, kalau naik gunung di Garut. Pemadangannya indah banget. Tranportasinya juga mudah. Tapi saran saya, jika kalian ke Garut, naiklah bis primajasa. Karena ketika berangkat, saya pakai bis yang berbeda. Dan itu, nggak nyaman. Ketika pulang naik primajasa, badannya pun bisa tidur terlelap.
Merbabu, Mahameru, Rinjani. Semoga bisa bertamu ke diri kalian!

Rabu, 08 Juli 2020

Review Buku Bisnis


Review Buku “Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga”.


Untuk minggu ini, apakah kalian sudah membaca buku?
Bila belum terbiasa untuk membaca buku, saya menyarankan untuk membaca buku-buku yang ringan dulu. Mulai dari buku-buku fiksi, buku-buku non-fiski, atau komik.
Saya pribadi sih, cukup senang dengan buku-buku fiksi. Mulai dari kumpulan cerpen dan juga novel. Saya rasa, semua orang suka novel. Apalagi kaum hawa. Nah, saran saya, pilihlah novel yang punya nilai-nilai hikmah. kayak novel Kang Abik, Asma Nadia, Ma’mun Affany, dan masih banyak lagi.
Bulan ini, saya pun membeli novel “Ayah” dari Andrea Hirata dan “Gadis 12 Harakat” dari ma’mun Affany. Karena bagi saya, novel itu bahasanya simpel dan mudah untuk dipahami.
Selain buku-buku fiksi, saya pun juga suka buku-buku non fiksi. Di antaranya buku-buku dari Ahmad Rif’an Rifai. Tahu kan, siapa beliau?
Iya, benar. Buku-buku beliau sudah banyak banget. Saya pribadi pun juga mengoleksi buku-buku beliau. Seperti ketika Tuhan tak lagi dibutuhkan, menikahlah sebelum usia 30 tahun, dan juga saya pernah menulis antologi dengan beliau. Yang judul bukunya “Never Stop Trying”.
Tapi, kali ini, saya akan mengulas buku beliau yang bagi saya, cukup bagus bukunya. Karena bagi saya, judulnya pun sudah bisa memikat pembaca.
“Hidup kaya raya, mati masuk surge” judulnya menarik, kan?


Buku ini adalah buku yang mengisahkan akan perjalanan beliau membangun bisnis. Beliau pun bercerita bahwa beliau sudah mulai berbisnis sejak SMA. Di masa SMA, beliau pun sudah punya target, kalau hidup jangan biasa-biasa saja.
“Kemauan yang besar sering kali mengundang hadirnya kemampuan yang besar”. Ini adalah salah satu pepatah hikmah dalam buku tersebut. Saya pun setuju. Karena tanpa ada kemauan, maka tak akan ada kemampuan yang menepi di tubuh kita. Karena kemampuan itu akan muncul setelah adanya kemauan untuk berbuat.
Ada juga “Keberuntungan adalah perkawinan antara persiapan dengan momentum”. Ada yang beranggapan, kalau keberuntungan itu datang tak tertungga. Ini benar juga, tapi kata-kata Mas Rif’ai lebih tajam. Artinya, setiap orang harus menyiapkan segala apa yang dibutuhukan, terutama para pelaku usaha. Untung dan rugi adalah hal wajar. Tapi kalau rugi terus, itu yang nggak wajar.
Masa muda adalah masa yang penuh gejolak. Di mana semua potensi dapat dimaksimalkan. Saat ini, banyak banget pelaku-pelaku usaha dari kalangan milenial. Lihat aja Go-jek, Bukalapak, itu adalah pelaku-pelaku usaha dengan CEO anak-anak milenial. Jadi, nggak ada tuh anak-anak milenial nggak bisa bersaing di dunia usaha saat ini.
Tapi, saya sebagai praktisi pendidikan dan pelaku usaha, terkadang cukup miris melihat anak-anak saat ini. Kemanjaan masih banyak. Tak banyak yang bisa hidup mandiri. Orang tua sangat takut, jika anaknya berada di jurang kesusahan. Padahal, dalam pepatah Arab mengatakan, “Kenikmatan itu dirasakan setelah kelelahan”.
Hal ini tertulis di buku, “Silakan anak muda berpikir hal yang paling gila sekalipun tapi satu jangan pernah berhenti belajar”.
“Out of the Box”. Itulah semboyan generasi milenial yang kreatif.
Nah, di akhir buku pun, ada ajakan dari penulis untuk bekerja sekaligus beribadah. Mas Rif’ai menulis bahwa segala apa yang kita kerjakan itu tergantung kepada niatnya. bila niatnya baik, maka balasannya pun baik. tapi bila sebaliknya, ya pastinya, balasannya pun buruk.
Apa yang kita hasilkan pun harus dari hasil yang halal. Jangan kita bekerja dari hasil yang haram. Karena apa yang dikerjakan, akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Sudah saatnya, anak-anak sekarang itu, kreatif dalam berwirausaha. Jangan malah, sibuk mencari kerja. Lamar sana-sini, hanya bekerja tak lama. Udah bekerja lama, malah di PHK. Lagi-lagi, itu akan menambah nilai penggangguran yang ada. Sudah saatnya kita bangun usaha.

Senin, 06 Juli 2020

Explore Indonesia


Pesona Negeri di Atas Awan

        Kalian lebih setuju mana, jalan-jalan ke luar negeri atau jalan-jalan di dalamnya negeri?
             Kalau saya sih, lebih milih dalam negeri. Eits, bukannya luar negeri nggak mau, tapi karena budget yang terbatas. Hehe..
          Tapi, di dalam negeri sendiri, banyak banget destinasi yang bisa kita nikmati. Sebut saja, kalau di Sumatra, ada Danau Toba, Gunung Kerinci, Titik 0 Kilo Meter di Sabang, Pulau Belitong. Di bagian Timur, ada Wakatobi, Raja Ampat, dan masih banyak lagi. Apalagi di Pulau Jawa sendiri. Banyak banget deh, destinasi yang keren-keren. Ada Gunung Semeru, Gunung Bromo, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Tangkuban Perahu, dan juga Gunung Prau.
        Nah, Berbicara mengenai Gunung Prau, saya rasa sebagian kalian, pasti sudah pernah ke sana kan?
            Kalau yang belum, kali ini saya akan berbagi pengalaman saya, saat melancong ke negeri di atas awan itu.
            Oh iya, sebenarnya, saya perginya sudah lama kok. Mungkin sekitar tahun 2016, yaitu empat tahun yang lalu. Tapi, baru sempet nulis sekarang. Hehe…
            Saat itu, saya berangkat dari Bekasi bersama empat orang teman saya. Dan dua lagi, kita janjian di sana, yaitu di Wonosobo. Yang satu, teman dari Jogja. Dan yang satunya lagi, tuan rumah, yang rumahnya di Wonosobo. Jadi, kita bisa istirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di sekitaran Gunung prau. Jadi total, kita berenam.
            Nah, kalau kalian ke Wonosobo, jangan hanya mengunjungi Gunung Prau aja yah. Tapi harus juga mengunjungi berbagai destinasi yang ada di sekitarannya juga. Apa aja sih, desnitasi yang berada di dekat sana
1.    Alun-alun Wonosobo
ungarannews.com
Setahu saya nggak banyak para traveller yang berkunjung ke sini. Walau ini hanya alun-alun kota, tapi suasana enak banget. Sejuk dan dingin, kalau ke sini malam hari. Kebetulan rumah temen saya deket sini, tepatnya di belakang kampus Unsiq. Jadi kita malam-malam sebelum berangkat ke Gunung Prau, mampir ke sini deh.
Yang paling saya ingat di sini adalah saat saya beli sekuteng. Tahu kah yah Sekuteng? iya bener banget. Minuman yang ada aroma jahe dan tambahan kacang gitu. Nah, kalau biasanya itu hangatnya bisa bertahan lama. Tapi, kalau di Wonosobo, jangan harap. Paling setelah lima menit minuman disuguhkan, minuman itu udah dingin. Yah, setelah saya pikir-pikir, wajar sih. Karena udara di sini, dingin banget.

2.    Telaga Tiga Warna
Di Wonosobo, bukan hanya ada Gunung yah. Tapi ada juga, telaga. Namanya telaga tiga warna.
Di sini, kalian bisa menikmati suasana telaga yang sejuk banget sambil mengambil spot foto yang kalian mau. Di sini, juga bisa jadi tempat pelepah penat, setelah beraktivitas padat dengan banyaknya pekerjaan di kantor. Hehe…


3.    Kawah Sikidang
Kalau di Jawa Barat, ada Tangkuban Perahu. Di Jawa Tengah juga ada kawah yang cukup terkenal, namanya Kawah Sikidang. Destinasi ini letaknya juga di Wonosobo, dan tak jauh dari area Gunung Prau.
Di sini kita bisa jalan-jalan menikmati kawah sambil merebus telur. Bagi yang mau. Tapi, asyik loh, merebus telur di sini. Yang biasanya merebusnya pakai kompor, ini pakai air panas dari kawah.
Tapi, kalau kalian ke sini, jangan lupa, pakai masker yah. Karena bau belerangnya sangat nyengat banget. Kalau nggak pakai, jadi kurang nyaman jalan-jalannya. 

4.    Gunung Prau
Ke Dieng, pasti tujuan utamanya, ke Gunung Prau dong. Karena di sinilah icon dari Kota Wonosobo. Gunungnya sih, nggak tinggi. Paling sekitar dua jam, kalian sudah sampai di titik camp. Oh iya, kata orang-orang sih, Gunung Prau juga disebut bukit teletabis. Karena memang, secara geografis, mirip banget. Bagi kalian yang nggak tahu, apa itu bukit teletabis, berarti karena bukan generasi 90-an yah. Hehe..

5.    Bukit Sikunir
Nah, ketika itu, saya nggak mendirikan tenda di Gunung Prau, karena kita pengen melihat “Sunrise” di Bukit Sikunir. Al hasil, kita pun berangkat ke sana, sekitar jam sebelas malam. Nah, pas di sana, ternyata kita nggak bisa ngecamp di Bukit Sikunir.
“Kalau mau ke sana, nanti sekitar jam tiga, Mas.” Ucap salah satu petugas di sana.
Akhirnya, kami pun menyewa tenda dan mulai istirahat di pinggiran danau dekat sana. Sebelumnya nantinya setelah subuh, kita akan mendaki bukit itu untuk menikmati sunrise.

             Nah, pastinya udah kebayang kan, gimana pesona negeri di atas awan itu. Bagi kalian yang belum ke sana, cobalah berkunjung ke sana. Saya pun ketagihan. Karena, indah banget tempatnya.
            Oh iya, kalau ke sana, saran saya sih, enaknya kalian pakai kendaraan pribadi, entah mobil atau motor. Karena objek yang keren, di sana banyak banget. Nah, kalau pakai kendaraan umum, takutnya ada keterbatasan gerak untuk mengunjungi semua destinasi yang ada.
        Selamat berjalan-jalan ria yah!

Jumat, 03 Juli 2020


Sudahkah kita membaca Al-Qur’an?


Sudah sepatutnya, membaca Al-Qur’an menjadi kebutuhan bagi setiap muslim. Membaca Al-Qur’an bukan hanya sebatas kewajiban, melainkan juga sebagai kebutuhan ruh yang harus selalu diisi setiap hari. Jika urusan fisik saja, selalu diperhatikan. Makan dan minum selalu diutamakan, lalu untuk urusan ruh, kok dilupakan?

Keseimbangan antara fisik, ruh, dan akal harus dikerjakan secara seimbang. Kebutuhan fisik dengan memperhatikan kebutuhan tubuh. Dari mulai mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, berolahraga, dan membuat lingkungan hidup yang sehat. Kebutuhan akal pun tak kalah penting. Belajar, membaca, menulis adalah rutinitas yang menunjang keseimbangan akal. Dan yang tak kalah paling dari itu semua adalah kebutuhan ruh. Hal ini ditunjang dengan ibadah-ibadah yang kita kerjakan, seperti shalat, puasa, dan juga membaca Al-Qur’an.
Namun, yang sangat disayangkan adalah masih banyak yang kesulitan untuk menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Baik membacanya, mentadaburinya, atau juga menghafalnya. Terlebih bagi yang hidup di lingkungan perkotaan. Aktivitas duniawi seakan menjadikan aktivitas akhirat ditelantarkan. Kesibukan pekerjaan membuat waktu untuk belajar Al-Qur’an seakan sedikit. Bahkan, tak ada.
Bagaimana agar kita bisa memiliki semangat untuk memperlajari Al-Qur’an?
Agar kita bisa memiliki niat dan semangat untuk mempelajari kitab Allah, maka kita harus mengetahui keutamaan dari mempelajarinya. Mengutip dari kitabisa.com, di antaranya keutamaan belajar Al-Qur’an adalah


1.      Mendapatkan kebaikan
Dalam hadits Imam Muslim, diriwayatkan Aisyah ra, Rasulullah bersabda, “Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah. Adapun yang membacanya dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut. Maka, baginya dua pahala.”
Entah, berapa usia kita, sesibuk apapun kita, baik sudah lancar atau belum, semuanya memiliki keutamaan. Yang sudah lancar dalam membacanya, maka dirinya dikelilingi malaikat. Yang belum lancar pun, maka baginya dua kebaikan. Pahala pertama dari bacaan itu sendiri dan pahala kedua, pahala dari usahanya untuk bisa membaca Al-Qur’an.
2.      Terpelihara dari kegelapan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendengar satu ayat dari kitab Allah, ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang membacanya pula, baginya cahaya di hari kiamat.”
Setelah fase di dunia ini, kita akan masuk ke alam kubur. Alam di mana keadaannya sangat gelap. Bahkan, keadaannya lebih gelap dari keadaan di dunia. Listrik nggak ada, cahaya lilin pun juga nggak ada. Hanya ada cahaya amal shaleh dan Al-Qur’an yang bisa menjadi penerang di alam kubur nanti.
3.      Mendapatkan syafaat
Dalam hadits Muslim, Abu Umamah Al Bahily ra berkata, “Aku telah mendengar, Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada orang yang membacanya.”
Di hari kiamat kelak, semua orang sangat sibuk akan kesibukannya masing-masing. Hubungan keluarga di dunia menjadi tak berharga kelak, kecuali Allah mengizinkannya. Semua orang mengharapkan syafaat dari yang Maha Pemberi Syafaat, yaitu Allah. Dan kelak, Al-Qur’an pun bisa memberi syafaat kepada orang-orang yang sering membacanya.
Semua orang memiliki kesempatan untuk belajar Al-Qur’an. Baik mereka yang muda, orang tua, atau juga lansia. Bila ada rasa malas, ingat-ingatlah akan keutamaannya. Uang kelak tak ada artinya, jabatan kelak tak bernilai dihadapan-Nya. Hanya amal shaleh yang kelak akan  berharga dan dari membaca Al-Qur’an tersimpan akan kemulian yang tiada ternilai harganya. Semoga kelak, kita menjadi hamba-hamba yang mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an.

Rabu, 01 Juli 2020


Hantu Resesi Negeri Ini

kabarsiger.com
Bencana covid-19 bukan hanya melanda negeri ini, melainkan seluruh dunia. Pasein yang terpapar pun kian bertambah. Namun, vaksin yang dibutuhkan masih belum ditemukan. Manusia seakan dihantui oleh ketakutan yang kini berada di dekatnya. Ditambah lagi, soal pekerjaan. Banyak perusahaan yang mengeluh untuk membayar upah pegawai. Tak semua perusahaan dapat membayar upah para pekerjanya. Ada yang membayar setengah dari gaji pada umumnya, ada pula yang dirumahkan atau mengalami pemutusan hubungan kerja.

            Mengutip dari Tirto.id bahwa Bapan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Febuari 2020 mencapai 6,88 juta orang. Jumlah ini  naik 0,06 juta atau 60 ribu orang dibandingkan Febuari 2019 secara year on year (yoy). Data ini diambil pada bulan Febuari, sedangkan pandemi covid di negara ini diumumkan pada bulan Maret lalu. Artinya angka di atas masih bisa bertambah. Terlebih penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang terbilang cukup lama. Yaitu berkisaran tiga bulan. Dari sinilah muncul, masalah-masalah ekonomi yang telah penulis urai di atas. Bila ini tidak diatasi, maka Indonesia akan mengalami masalah serius dalam ekonomi, yaitu ancaman resesi.
Mengutip dari Wikipedia, dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negative selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

financedetik.com

Mengutip dari halaman Bloomberg, Juni 2020, bahwa ekonomi Indonesia dalam kuartal II berada di angka -3,1% Secara global, hampir seluruh negara mengalami penurunan ekonomi. Hanya Tiongkok yang diprediksi mencatatkan pertumbuhan positif 1,2%  setelah anjlok hingga -6,8% pada kuartal sebelumnya. Yang menjadi persoalan, bisakan Indonesia menaikan ekonomi di kuartal III. Bila tidak, maka siap-siap, hantu resesi telah menanti. 
Selain itu, resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Minimnya lapangan kerja, membuat para pencari kerja berjuang dengan sangat keras demi mendapat pekerjaan. Baik itu sesuai dengan keahliannya atau tidak. Asalkan dapat duit, semua dikerjakan.
Investasi pun perlahan lumpuh. Para inevestor menahan dananya akan situasi ekonomi yang masih labil. Terlebih bagi negeri ini yang terkenal dengan nuansa pariwisatanya. Sektor ini pun tak berjalan. Maka, tak heran, bila di sektor ini banyak sekali terjadi PHK yang mana angka penggangguran kian bertambah.
Bila melihat data di BPS, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendominasi julah pengangguran di tahun ini. Yaitu sekitar 8,49%.  Hal ini menjadikan tanda tanya, kemanakah arah dari pendidikan mereka? Program yang seharusnya bisa terserap ke dunia kerja, kok malah menambah nilai penggangguran?

Deddy Corbuzier pernah berkata, “Milineal sekarang banyak yang berpendidikan tinggi, tapi nggak tahu cara menggunakannya ilmunya.” Melihat dari perkataan sang maestro magician, artinya setiap orang memiliki potensi dalam memaksimalkan ilmunya. Yang jadi masalah, ia tidak tahu bagaimana mengaplikasikannya.
Sebagai contoh, jika anda seorang lulusan SMK jurusan teknik mesin motor. Maka, cobalah menjadi mekanik di bengkel-bengkel motor. Baik itu yang bersifat resmi atau indivial. Yang jadi masalah, saat anda ingin bekerja, lalu anda menanyakan gaji. Itu memang tidak masalah, namun bila anda masih di tahap pemula, dan belum memiliki pengalaman bekerja, setidaknya bekerja dulu, baru berfikir masalah gaji.
Bila anda jurusan tata boga, mengapa tidak berusaha untuk membuat usaha? Dunia usaha kuliner di negeri ini taka da matinya. Trend-trend makanan tiap kali bermunculan di negeri ini. Coba lihat saja di café-café, hampir pasti ada menu baru. Nah, ini bisa menjadi peluang anda, jika anda ingin mencobanya.
Mari kita bantu negeri ini, dari ancaman resesi. Caramya adalah dengan meningkatkan nilai PDB negeri ini dan menuntunkan angka penggangguran. Bila itu sudah dilakukan, semoga negeri ini bisa kembali ke stabilitas ekonomi yang aman dan sentosa.