Sabtu, 29 Mei 2021

Sudah Shalat, tapi kok Masih Maksiat?



Setiap manusia memiliki tugas yang sama terhadap Rab-nya yaitu beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Tak terkecuali bagi seorang muslim. Mereka memiliki tugas untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangannya. Mengerjakan perintah-Nya saja tidaklah cukup, namun seorang muslim yang taat, hendaknya ia meninggalkan segala larangannya. Dan di sinilah akan terlihat kepribadian seorang muslim, apakah ia taat kepada tuhannya atau malah sebaliknya.

Ketika seseorang telah memilih Islam sebagainya keyakinannya, hendaklah ia mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya. Segala ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam tidak boleh dipilih-pilih semaunya sendiri. Shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya haruslah dikerjakannya bukan malah ditolaknya dan memilih ibadah yang disukainya saja. Ketika ada bentuk ibadah yang ditolaknya, maka tak sempurnalah keimanannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةَ ...

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya..( Al-Baqoroh; 208)

Seorang muslim tidak boleh memaksa saudaranya untuk masuk ke dalam Islam. Namun, bila ia telah masuk Islam, ia harus mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tak boleh memilih semaunya, apalagi ibadah sekehendaknya dengan menabrak aturan syariat yang ada. Termasuk ibadah shalat.

Shalat adalah bentuk ibadah yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang beragama Islam. Dalam Islam, shalat dibagi menjadi dua. Ada yang bersifat wajib dan ada juga bersifat sunnah. Shalat yang wajib bagi setiap muslim adalah shalat lima waktu, yaitu shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Kelima shalat ini menjadi penentu akan keislaman seseorang. Bila ia meninggalkannya, ia mendapat ganjaran berupa dosar besar kelak di akhirat nanti.

Tujuan dari shalat adalah mencegah seseorang untuk tidak berbuat keji dan munkar. Perbuatan keji adalah segala bentuk kejelakan yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti mencuri. Karena tangan menjadi pelaku utama dalam tindakan maksiat ini. Dan perbuatan munkar adalah segala bentuk kejelakan yang diingkar oleh hati, seperti berbohong. Ketika seseorang berbohong, maka hatinya akan mengikarinya. Karena sejatinya, fitrah manusia adalah selalu melakukan kebaikan dan menolak keburukan.

Bila seseorang telah mengerjakan shalat, namun dirinya masih berbuat maksiat, lalu apakah bisa disebut sebagai hamba yang taat?

Bisa jadi, ia hanya mengerjakan shalat dengan semaunya tanpa memahami makna dan bagaimana shalat yang benar itu.

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut: 45)

kata  "اُتْلُ"memiliki arti “Bacalah”. Padahal kata ini bukan hanya diartikan bacalah. Namun bacalah dan pahamilah makna yang lebih lengkap untuk kata di atas. Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya untuk membaca ayat-ayat-Nya dan memahami kandungan-Nya. Tujuannya adalah agar terciptanya kenikmatan dalam shalat. Bila hal ini telah dirasakan, tak mungkin rasanya akan timbul perbuatan keji dan munkar dalam prilakunya.

Shalat adalah bentuk interaksi antara hamba dan Allah. Saat shalatlah, seorang hamba menjadi sangat dekat dengan tuhannya. Maka tak heran, bila seseorang memiliki masalah, lalu ia beralih ke aktivitas shalat, maka setelah itu akan terasa ketenangan. Walau masalah belum selesai, namun rasa tenang akan terasa di hati.

Bila kita koreksi diri, sudah berapa persen bacaan shalat yang sudah kita hafal dan paham? Sudah kah kita khusyuk dalam shalat? Atau jangan-jangan, shalat yang kita kerjakan hanya pengugur kewajiban? Atau bahkan hanya sekedar shalat agar dikatakan sebagai shalat muslim?

Masih ada waktu untuk memperbaikannya. Hidayat-Nya sangat terbuka. Magfirah-Nya selalu ada untuk hamba-Nya. Selagi masih bisa untuk diperbaikinya, kenapa harus menunda? Jangan sampai menyesal, karena waktu tak bisa diputar. Perbaiki shalat, agar hidup ini tak bergelimang dengan maksiat agar kelak menjadi hamba yang taat.