Bulan
Bersinar di Bumi Eropa
Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang
dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi
langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka
seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat
jelas.
Korban-korban
berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan
sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka
hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.
Namun, di sisi
lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu
dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum
sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.
Menurut
Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik
Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini
merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel,
kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan
Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin
Konstantinopel.
Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada
masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan
dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini,
tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia
Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali
menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.
Sontak, ini
menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua
umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden
Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya
tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil
keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.
Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)
Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang
beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian
pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan
menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang
mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi,
Al-Hakim)
Selepas
perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah
sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub
Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah
banteng Konstantinopel.
Nafas
kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil
Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah
Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang
dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan
pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota
Umat Islam. Dan kini, kita semua bisa
melihat itu semua.
Sinar bulan
kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi
bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar
syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar