Tampilkan postingan dengan label Self Motivasion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Motivasion. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2021

The Power of Writting!

Jangan Banyak Mikir untuk Menulis!

        Kunci ketika kita ingin belajar menulis adalah jangan banyak mikir untuk menulis. Hal ini penting agar setiap apa yang kita tulis tidak menjadi beban. Asalkan tulisan yang kita tulis tidak dipublikasikan. Karena bila ingin dipublish, ada norma-norma yang harus diperhatikan agar apa yang ditulis bisa diambil manfaatnya bukan malah meresahkan.

        "Saya nggak PD buat nulis. Tulisan saya jelek". Ini sering sekali ditemukan bagi siapa saja yang ingin mulai menulis. Padahal kita nggak tahu, apakah tulisannya jelek atau sebaliknya? Bisa jadi dirinya berasumsi tulisannya jelek, tapi bagi teman kita malah berkesan atau bermanfaat. 

           Ketika awal-awal saya menulis. Ada rasa takut yang menahan jari-jari untuk mengetik. Ide sudah ada. Waktu cukup luang. Tapi rasa takut selalu membayangi untuk mulai menulis. Namun, perlahan hal ini bisa saya lewati hingga kini mulai terbiasa untuk membangun kebiasaan untuk menulis. Intinya adalah NULIS AJA!

         Saya mulai menyadari bahwa teori terpenting dari menulis adalah berani mulai menulis tanpa harus tertahan oleh sebuah teori. 

         "Tulislah apa yang dekat dengan kamu". Ini pesan dari guru saya, kalau ingin nulis itu dimulai dari apa yang kita tahu dan dekat dengan ini. Saya pun mulai berfikir, kira-kira gaya tulisan saya itu ke arah mana yah?

              ARTIKEL! Tak butuh banyak halaman, namun penuh akan pesan. Artikel menjadi langkah awal saya untuk mulai menulis. Ketika ada ide untuk menulis, saya mulai mencatat point-point apa yang harus tulis. Lalu, ketika sudah di depan laptop, saya hanya menyatukan point-point itu dalam satu tulisan yang tersusun layaknya sebuah artikel.

         Jika menulis tanpa sebuah tantangan, rasanya ada yang kurang. Saya mulai menantang diri, bisa nggak sih tulisan saya itu dilirik oleh teman-teman. Dan Alhamdulillah, tahun 2020 tulisan saya bisa dilirik. Walau tidak semua tulisan bisa masuk nominasi juara.

      Lomba ini diadakan oleh salah satu kampus swasta di Jakarta. Temanya yang dilombakan masih seputar covid-19. Karena tahun 2020, tahun duka. Wabah masih melanda. Orang-orang juga merasakan dampak yang luar biasa. Mulai faktor kesehatan, sosial, dan ekonomi menjadi tertahan karena dampak wabah ini.

        Dalam rangka Milad FLP Jakarta Raya, pengurus mengadakan sebuah sayembara kepenulisan. Di antara lomba-lomba yang diadakan adalah cerita pendek, puisi dan artikel. 
      Saya memilih artikel untuk sayembara kepenulisan dengan pertimbangan waktu yang ada. Karena waktu yang tersedia sangat terbatas. Terlebih deadline-nya pun hanya tinggal hitungan hari saja. Dan Alhamdulillah, tulisan saya pun dilirik oleh panitia.
            
    Selang beberapa hari, FLP Bekasi juga mengadakan perlombaan menulis. Temanya pun seputar Kota Bekasi. Saya menulis tentang "Syiar Islam dari Pusat Kota Bekasi". 
     Islamic Center Bekasi adalah simbol dari syiar Islam di Bekasi. Di mana agenda-agenda keislaman sering diadakan di sini. Ini adalah gagasan yang saya tulis agar kita semua bisa mengoptimalkan peran Islamic Center Bekasi.
        
    
        Semua kita bisa menulis. Peran tulisan bukan hanya menyasar satu orang saja. Tapi juga menyasar banyak orang. Kita punya tugas dakwah. Baik melalui lisan atau juga tulisan. 



Selasa, 15 September 2020

I am a Good Looking

Apa yang salah dengan “Good Looking”?


Bila kulit manusia adalah organ perasa yang paling sensitif. Maka, rasanya iman seorang muslim pun amat sangat sensitif akan kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu. Masih ingatkah kita akan statement dari salah satu pemangku jabatan di negeri ini bahwa good looking adalah sumber radikalisme?

Pernyataan ini sempat viral di media-media di negeri ini. Baik di Instagram, Youtube, atau berita-berita online. Rasanya kita masih ingat akan pernyataannya bahwa dulu ia pernah menyampaikan akan larangan memakai celana cingkrang dan cadar di lingkungan ASN. Dan anehnya, ini terulang kembali. Ia menyatakan bahwa orang yang penampilannya terlihat apik dan pandai berbahasa arab seakan menjadi sarang radikalisme dan termasuk orang yang harus diwaspadai.

Padahal, good looking atau hafidz sendiri memiliki arti yang baik yaitu orang yang memiliki kepribadian baik. bukan hanya itu, ia juga memiliki kedekatan dengan kitabullah. Lalu, dimana celah yang harus diwaspadai? Bukankah orang yang dekat dengan al-Quran adalah orang yang baik? Sebagaimana Rasulullah sampaikan :”Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”


Tak hanya itu, bila orang-orang saat ini lebih gemar dan bangga dengan Bahasa Inggris. Maka, sebagai umat Islam pun kita memiliki kebanggaan yaitu bisa menguasai Bahasa Arab. Karena ini adalah bahasa al-Qur’an. Dengan menguasai Bahasa Arab, seorang muslim akan sangat mudah untuk menghafal dan memahami isi al-Quran.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (yusuf:2)

Bahasa Arab adalah bahasa yang sudah ada dari zaman Nabi Ismail As hingga saat ini. Bahasa ini pula memiliki beragam makna. Bahkan, Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql)

Selain itu, salah satu imam fiqh, yaitu Iman As-Syafi’I berkata, “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321). Melalui pernyataan di atas, rasanya sudah jelas bahwa menguasai Bahasa Arab adalah keharusan. Bukan keterpaksaan. Bila belajar Bahasa Inggris harus rela untuk berjuang demi menggapai nilai duniawi. Lalu, mengapa berjuang untuk menggapai akhirat, rasanya amat berat?

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang perlu diwaspadai. Terlebih saat ini, kita berada di akhir zaman. Segalanya seakan indah di awal. Namun, amat durjana di akhir. Teramat banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang manis di lisan namun amat sangat ingkar untuk dikerjakan. Bahkan cenderung ditinggalkan. Maka, perkara ini pun telah Allah sampaikan dalam kitab-Nya.

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqoroh:204)

          Banyak yang pandai membuat janji, namun amat sulit untuk ditepati. Terlalu banyak duri untuk negeri ini, namun teramat sulit obat untuk mengobati. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Itulah yang terlihat dari negeri ini. Sudah saatnya kita saling membantu dan berbagi. Bukan hanya sebatas materi, tapi juga ilmu dan pengajaran akhlak dan budi pekerti agar bangsa ini memiliki akhlak yang terpuji. 

Selasa, 28 Juli 2020

Khazanah Islam

Bulan Bersinar di Bumi Eropa

            Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat jelas.

           Korban-korban berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.

             Namun, di sisi lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.

           Menurut Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin Konstantinopel.


            Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini, tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.

               Sontak, ini menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.

      Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)

       Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

              

         Waktu yang dibutuhkan oleh umat Islam untuk menaklukan bumi Turki sangat lama. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan pernyataan Rasul di atas. Di tahun 6 H, Rasulullah pernah mengirim sebuah surat kepada Heraklius yang isinya adalah ajakan untuk masuk Islam. Tapi, beliau menolaknya. Namun, saat ini, di dalam benaknya ada firasat, bahwa kelak Islam akan bisa menduduki bumi yang dipijaknya saat ini.

            Selepas perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah banteng Konstantinopel.

                Nafas kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota Umat Islam.  Dan kini, kita semua bisa melihat itu semua.

                Sinar bulan kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.


Jumat, 24 Juli 2020



Cara Mengelola Keuangan di tengah Krisis Pandemi

        Setiap manusia memiliki beban hidup yang berbeda. Begitu pula dengan cara menyelesaikannya. Ada yang diberi ujian ringan, dia dengan mudah menyelesaikannya. Namun, ada yang diberi ujian berat, dia juga tak mengeluh untuk menyelesaikannya.  Ujian yang telah Allah berikan, sejatinya adalah sesuai dengan kadar kemampuan hambanya. Tak ada ujian tanpa adanya solusi.

         Saat ini, Allah sedang menguji kita dengan virus corona. Wabah ini menyerang semua kalangan. Baik anak-anak, dewasa, hingga lansia merasa khawatir akan keberadaan wabah ini. Ketakutan di mana-mana. Bahkan, sebagian orang ada yang membatasi aktivitasnya. Seperti pembelajaran jarak jauh bagi murid sekolah dan gurunya. Dan ada juga Work From Home bagi sebagian yang bekerja di sektor formal.
            Pemberitaan di media pun banyak yang berisikan akan krisis ekonomi. Di sektor ekonomi banyak sekali perusahaan yang memberhentikan karyawan. Hal ini membuat sebagian orang-orang tidak memiiliki penghasilan. Ada yang merubah pola hidupnya. Yang biasanya berfoya-foya, kini lebih berhemat. Ada juga yang masih mengandalkan bantuan social dari pemerintah. Perputaran ekonomi tak berjalan stabil.
            Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) membuat ekonomi berjalan lambat. Bahkan, pembatasannya pun mulai berdampak pada masyarakat. Ojek online tidak boleh mengambil penumpangnya, rumah makan ditutup, dan pasar-pasar pun dibatasi jam kerjanya. Bahkan, yang lebih mirisnya lagi, banyak karyawan yang diberhentikan lantaran lesunya aktivitas ekonomi. Maka, sebelumya kondisi makin terpuruk, perluanya membangun mental juang demi bisa melawan keadaan yang tak mengenakan ini. Dibutuhkan strategi agar kehidupan ini berjalan dengan baik, seperti halnya hal-hal di bawah ini:
1. Membiasakan untuk berhemat
Bagi kalian yang pola hidupnya boros, mewajibkan hidup untuk berhemat itu tak mudah. Kebiasaan boros itu membuat kondisi saat ini tidak cocok. Kalian harus benar-benar mengatur keuangan agar bisa stabil. Terlebih bagi pelaku UMKM yang pendapatannya tak menentu. Dibutuhkan strategi yang jitu akan usahanya tetap berlanjut. 


Bagi pelaku usaha, marginal cost yang dibutuhkan harus diperhitungkan. Hal ini tentunya akan berdampak bagi produknya yang dihasilkan. Misalkan, bila sebelum pandemic, terbiasa menggunakan kemasan yang mahal, kini dirubah ke kemasan yang standar. Namun, yang perlu diperhatikan adalah produk yang jual tetap bernilai, walau ada beberapa komponen yang dikurangi.
2. Menabung untuk Dana Darurat
Dana tabungan darurat adalah satu opsi yang bisa diandalkan saat kalian berada di posisi yang mendesak. Dana ini digunakan bila kalian menghadapi situasi yang tak pernah terpikirkan. Seperti hal wabah corona ini. Semua orang tak pernah menyangka bahwa wabah ini akan berdampak serius bagi semua orang.
Kalian harus memisahkan antara dana harian dengan dana darurat. Dana harian digunakan untuk pengeluaran harian atau bulanan. Namun, dana darurat itu lebih dijaga dan disimpan. Dan dana ini digunakan bila kalian menemui situasi yang sudah mendesak. Dengan begitu, kalian bisa bernafas sejenak di saat kondisi seperti ini.
3. Investasi yang aman

Ombak pandemic corona membuat para investor membidik instrumen yang lebih aman. Sahan dan redaksana yang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, kini cenderung melemah. Karena mereka berspekulasi bahwa saat ini, kedua instrument ini lebih rentan merugi. Dan para investor cenderung menahan dananya karena kondisi ekonomi yang belum stabil.
Di saat ini, instrument yang aman untuk berinvestasi adalah menyimpan emas. Kalian cukup membelinya, lalu menyimpannya. Adapun lamanya, kalian bisa menyimpannya paling tidak lima tahun. Lalu setelah itu terserah kalian, mau menjualnya kembali atau tetap menyimpannya. Maka, tak heran bila harga emas saat ini melonjak tinggi. Bahkan, untuk harga satu gram saat ini berada di kisaran satu juta perkeping.

Dari poin-poin di atas, perlunya menanamkan pola pikir positif dan rasa optimis menghadapi situasi yang krisis ini. Di tahun 1998, negara ini juga mengalami krisis ekonomi. Namun, perlahan bangsa ini mampu untuk melaluinya. Bahkan, IMF (Internasional Monetery Federation) memprediksi bahwa bangsa ini termasuk dalam negara yang selamat dari krisis ekonomi. Walau angka yang ditunjukan masih terbilang kecil.

Rabu, 22 Juli 2020


Sudahkah Kalian Menerapkan Growth Mindset?
 Setiap manusia memiliki kemampuan yang beragam dalam mengisi kehidupannya. Seorang penulis, dirinya akan senang dengan dunia literasi. Seorang pembisnis akan bergelut dengan serangkaian kegiatan bisnisnya. Seorang guru akan menikmati dunia pendidikan berinteraksi dengan anak muridnya dan lain sebagainnya.

        Mereka yang telah nyaman dengan profesinya, tidak serta merta meraihnya dengan duduk-duduk manis saja. Perlunya usaha dan kesungguhan demi menempuhnya. Jatuh bangun dalam meniti karir perlu dilalui. Hinaan pun tak luput dari orang-orang yang tak suka dengan usaha mereka. Namun, mereka bisa bangkit untuk terus menatap masa depan. Mereka itulah yang memiliki cara berfikir yang berkembang atau growth mindset. Yang mana mereka melihat kegagalan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai suatu proses dalam pencapaian karir yang akan dicapainya.
         Mengutip dari Kompasiana, growth mindset adalah tipikal orang yang tidak mudah menyerah. Mereka melihat bahwa kelemahan yang dimilikinya bukanlah sebagai suatu kekurangan. Karena suatu titik kesuksesan bukan hanya ditempuh melalui satu jalan, melainkan bisa dilalui dari puluhan jalan. Dan mereka menyakini bahwa kemampuan seseorang itu dinamis. Artinya semua bisa dipelajari. kegagalan yang dialami bisa diperbaiki. Karena kegagalan itu bukan aib. Melainkan proses untuk terus berkembang.
      Pola pikir seperti ini perlu diterapkan agar rutinitas yang kita miliki bernilai dan bermanfaat. Tentunya, diperlukan latihan dan kedisiplinan agar terbentuk cara berfikir yang berkembang. Berikut adalah tips dari kami agar kalian bisa memiliki growth mindset dalam kehidupan kalian.
1.      Jangan mudah menyerah
Rasa putus asa haruslah dibuang jauh-jauh. Tanamkanlah rasa optimis dan tak mudah menyerah dalam diri kita. Seorang pejuang tak akan menyerah bila belum menyelesaikan misinya. Begitu pula kita, pantang menyerah sebelum tujuan yang kita inginkan dapat diraih.
Buatlah target tahunan, bulanan, mingguan dalam diary kalian. Lalu buatlah langkah-langkah untuk menggapainya. Bila menemui kesulitan, cobalah istirahat sejenak dan meminta saran kepada ahlinya agar menemukan titik terang dalam penyelesainya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat.
2.      Memanfaatkan peluang baru
Seorang yang cerdas adalah mereka yang bisa melihat peluang kebaikan di depannya. Dan itu tak mungkin ditemukan, bila kita memiliki sifat “Block Mind” atau menutup diri dan sulit menerima masukan dari orang lain.
Seorang pembisnis yang handal, ia akan bisa memanfaatkan situasi yang ada di sekitarnya. Misalkan, saat ini terjadi pandemic, ia akan dengan cepat beradaptasi mengubah model usahanya. Dari yang sebelumnya ofline, kini harus online. Dan pantang bagi pembisnis untuk pesimis. Ia harus optimis. Karena rasa ini akan membangun pola pikir yang positif bagi dirinya.
3.      Menyukai tantangan
Bila menemukan tantangan dalam dunia pekerjaan, responslah dan terimalah dahulu. Masalah cara penyelesaian, singkirkan dahulu. Umumnya, orang lain akan berfikir, “kira-kira saya bisa nggak yah?” bila kalian masih berfikir seperti ini, maka level kalian belum meningkat.
Orang yang berani menerima tantangan, cenderung berfikir dua kali lipat. Pertama, berfikir untuk mengambil tantangan itu. Kedua, berfikir bagaimana cara untuk menyelesaikannya. Bila kalian sudah di titik ini, perlahan cara berfikir kalian sudah berkembang dan bersykurlah.
4.      Sabar dalam bertindak
Tidak semua orang bisa sabar dalam bertindak. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya, tatkala ia sedang marah. Hal ini pun sejatinya harus ada dalam diri kita. baik dalam interaksi social, ibadah, dan karir.
Seorang yang sedang menata karirnya, dirinya harus melalui proses yang tak mudah dan panjang. Dan ini harus memiliki kesabaran yang kuat agar segala prosesnya ada harus dilaluinya, bisa dilewatinya dengan baik.
 Jangan sampai kalah dengan pencuri. Mereka aja bisa sabar ketika beraksi, masak kita enggak. Padahal perbuatan mereka itu buruk, harusnya kita yang berbuat baik, harus memiliki kesabaran yang kuat. Jangan malah lembek dan menyerah dalam berproses.
5.      Bertemanlah dengan teman yang memiliki satu frekuensi
Lingkaran pertemanan menjadi hal penting dalam merubah pola pikir seseorang. Mereka yang suka menulis, tentunya memiliki komunitas dalam menulis. Mereka yang suka bisnis akan lebih senang berkumpul dengan para pembisnis. Yang suka bermain game, obrolan di kalangan mereka, tentunya seputar game.
Bila ingin memiliki growth mindset, carilah orang-orang yang satu fekuensi dengan kalian. Jangan malah bergambung dengan orang-orang yang menjatuhkan mental kalian. Adanya teman yang satu frekuensi, akan menjadikan diri kita semangat untuk terus meningkatkan kemampuan. Karena mereka memiliki tujuan dan goal yang sama.
Setiap manusia memiliki waktu yang sama. Namun, setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memanfaatkan waktu yang dimiliki. Gunakanlah growth mindset agar hidup kalian lebih bermakna. Karena hidup ini adalah anugrah Tuhan yang mesti disyukuri dan dinikmati.