Bila kulit manusia adalah organ perasa yang paling sensitif. Maka,
rasanya iman seorang muslim pun amat sangat sensitif akan kasus yang terjadi
beberapa hari yang lalu. Masih ingatkah kita akan statement dari salah satu pemangku
jabatan di negeri ini bahwa good looking adalah sumber radikalisme?
Pernyataan ini sempat viral di media-media di negeri ini. Baik di
Instagram, Youtube, atau berita-berita online. Rasanya kita masih ingat akan
pernyataannya bahwa dulu ia pernah menyampaikan akan larangan memakai celana
cingkrang dan cadar di lingkungan ASN. Dan anehnya, ini terulang kembali. Ia menyatakan
bahwa orang yang penampilannya terlihat apik dan pandai berbahasa arab seakan
menjadi sarang radikalisme dan termasuk orang yang harus diwaspadai.
Padahal, good looking atau hafidz sendiri memiliki arti yang baik
yaitu orang yang memiliki kepribadian baik. bukan hanya itu, ia juga memiliki
kedekatan dengan kitabullah. Lalu, dimana celah yang harus diwaspadai? Bukankah
orang yang dekat dengan al-Quran adalah orang yang baik? Sebagaimana Rasulullah
sampaikan :”Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang belajar al-Quran dan
mengajarkannya.”
Tak hanya itu, bila orang-orang saat ini lebih gemar dan bangga dengan
Bahasa Inggris. Maka, sebagai umat Islam pun kita memiliki kebanggaan yaitu
bisa menguasai Bahasa Arab. Karena ini adalah bahasa al-Qur’an. Dengan menguasai
Bahasa Arab, seorang muslim akan sangat mudah untuk menghafal dan memahami isi
al-Quran.
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (yusuf:2)
Bahasa Arab adalah bahasa
yang sudah ada dari zaman Nabi Ismail As hingga saat ini. Bahasa ini pula
memiliki beragam makna. Bahkan, Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa “Pelajarilah
bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal
mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql)
Selain itu, salah satu imam
fiqh, yaitu Iman As-Syafi’I berkata, “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk
memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321). Melalui pernyataan
di atas, rasanya sudah jelas bahwa menguasai Bahasa Arab adalah keharusan. Bukan
keterpaksaan. Bila belajar Bahasa Inggris harus rela untuk berjuang demi
menggapai nilai duniawi. Lalu, mengapa berjuang untuk menggapai akhirat,
rasanya amat berat?
Semakin tinggi jabatan seseorang,
maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang perlu diwaspadai. Terlebih
saat ini, kita berada di akhir zaman. Segalanya seakan indah di awal. Namun,
amat durjana di akhir. Teramat banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang
manis di lisan namun amat sangat ingkar untuk dikerjakan. Bahkan cenderung
ditinggalkan. Maka, perkara ini pun telah Allah sampaikan dalam kitab-Nya.
“Dan di
antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu,
dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia
adalah penantang yang paling keras.” (Al-Baqoroh:204)
Banyak yang pandai membuat janji, namun amat sulit untuk
ditepati. Terlalu banyak duri untuk negeri ini, namun teramat sulit obat untuk
mengobati. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Itulah yang
terlihat dari negeri ini. Sudah saatnya kita saling membantu dan berbagi. Bukan
hanya sebatas materi, tapi juga ilmu dan pengajaran akhlak dan budi pekerti
agar bangsa ini memiliki akhlak yang terpuji.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar