Setiap manusia memiliki tugas yang
sama terhadap Rab-nya yaitu beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Tak
terkecuali bagi seorang muslim. Mereka memiliki tugas untuk mengerjakan apa
yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangannya. Mengerjakan
perintah-Nya saja tidaklah cukup, namun seorang muslim yang taat, hendaknya ia
meninggalkan segala larangannya. Dan di sinilah akan terlihat kepribadian
seorang muslim, apakah ia taat kepada tuhannya atau malah sebaliknya.
Ketika seseorang telah memilih Islam
sebagainya keyakinannya, hendaklah ia mengerjakan segala apa yang diperintahkan
oleh Allah dan Rasulnya. Segala ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam tidak
boleh dipilih-pilih semaunya sendiri. Shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah
lainnya haruslah dikerjakannya bukan malah ditolaknya dan memilih ibadah yang
disukainya saja. Ketika ada bentuk ibadah yang ditolaknya, maka tak sempurnalah
keimanannya.
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةَ ...
“Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya..(
Al-Baqoroh; 208)
Seorang
muslim tidak boleh memaksa saudaranya untuk masuk ke dalam Islam. Namun, bila
ia telah masuk Islam, ia harus mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Tak boleh memilih semaunya, apalagi ibadah sekehendaknya dengan
menabrak aturan syariat yang ada. Termasuk ibadah shalat.
Shalat
adalah bentuk ibadah yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang beragama Islam.
Dalam Islam, shalat dibagi menjadi dua. Ada yang bersifat wajib dan ada juga
bersifat sunnah. Shalat yang wajib bagi setiap muslim adalah shalat lima waktu,
yaitu shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Kelima shalat ini menjadi
penentu akan keislaman seseorang. Bila ia meninggalkannya, ia mendapat ganjaran
berupa dosar besar kelak di akhirat nanti.
Tujuan
dari shalat adalah mencegah seseorang untuk tidak berbuat keji dan munkar.
Perbuatan keji adalah segala bentuk kejelakan yang dilakukan oleh anggota tubuh
seperti mencuri. Karena tangan menjadi pelaku utama dalam tindakan maksiat ini.
Dan perbuatan munkar adalah segala bentuk kejelakan yang diingkar oleh hati,
seperti berbohong. Ketika seseorang berbohong, maka hatinya akan mengikarinya.
Karena sejatinya, fitrah manusia adalah selalu melakukan kebaikan dan menolak
keburukan.
Bila
seseorang telah mengerjakan shalat, namun dirinya masih berbuat maksiat, lalu
apakah bisa disebut sebagai hamba yang taat?
Bisa
jadi, ia hanya mengerjakan shalat dengan semaunya tanpa memahami makna dan
bagaimana shalat yang benar itu.
اُتْلُ مَا أُوحِيَ
إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Al-Ankabut: 45)
kata "اُتْلُ"memiliki arti “Bacalah”. Padahal kata ini bukan hanya diartikan bacalah.
Namun bacalah dan pahamilah makna yang lebih lengkap untuk kata di atas. Allah mengisyaratkan
kepada hamba-Nya untuk membaca ayat-ayat-Nya dan memahami kandungan-Nya.
Tujuannya adalah agar terciptanya kenikmatan dalam shalat. Bila hal ini telah
dirasakan, tak mungkin rasanya akan timbul perbuatan keji dan munkar dalam
prilakunya.
Shalat adalah
bentuk interaksi antara hamba dan Allah. Saat shalatlah, seorang hamba menjadi
sangat dekat dengan tuhannya. Maka tak heran, bila seseorang memiliki masalah,
lalu ia beralih ke aktivitas shalat, maka setelah itu akan terasa ketenangan.
Walau masalah belum selesai, namun rasa tenang akan terasa di hati.
Bila kita koreksi
diri, sudah berapa persen bacaan shalat yang sudah kita hafal dan paham? Sudah
kah kita khusyuk dalam shalat? Atau jangan-jangan, shalat yang kita kerjakan
hanya pengugur kewajiban? Atau bahkan hanya sekedar shalat agar dikatakan
sebagai shalat muslim?
Masih ada waktu
untuk memperbaikannya. Hidayat-Nya sangat terbuka. Magfirah-Nya selalu ada
untuk hamba-Nya. Selagi masih bisa untuk diperbaikinya, kenapa harus menunda? Jangan
sampai menyesal, karena waktu tak bisa diputar. Perbaiki shalat, agar hidup ini
tak bergelimang dengan maksiat agar kelak menjadi hamba yang taat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar