Rabu, 24 Juni 2020



Asal Usul Penamaan Manusia di Dalam Al Qur’an


Ada banyak sekali makhluk yang Allah ciptakan di dunia ini. Sebut saja jin, iblis, syaithan, tumbuhan, hewan, dan manusia. Namun, dari sekian makhluk, manusia adalah makhluk yang Allah pilih untuk mengemban amanah sebagai khalifah. Dalam buku “Manusia Paripurna” dijelaskan bahwa khalifah adalah misi yang harus diemban setiap manusia di muka bumi. Karena khalifah sejatinya adalah nama bagi pengemban sifat khilafah, terambil dari kata khalafa, yang artinya menggantikan yang berlalu. Manusia disemati nama khilafah karena keberadaannya bersifat sementara di bumi ini dan akan saling menggantikan dari satu masa ke masa lainnya.

Agar kita bisa mengerjakan misi mulia itu, perlu sekiranya kita merenungi sejenak, kenapa penciptaan makhluk yang ditugaskan menjadi khalifah dinamakan Manusia. Karena bila kita telusuri, di dalam al-Qur’an ada empat kosa kata manusia yang ditulis secara berbeda. Ada basyar, ins, insan, dan nas. Namun, setiap kata tersebut memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Mari kita bahas sedikit demi sedikit.
             1. Basyar بشر
idenamaislam.com

           Abu Hilal al-‘Askari menulis, bahwa kata basyar berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan memiliki penampakan yang indah.
Penciptaan manusia dengan nama basyar, seakan Allah ingin mengisyaratkan bahwa secara fisik, manusia itu diciptakan dengan bentuk yang baik. Bahkan, keterangan ini, bisa ditemukan di Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4, yang berbunyi ;”Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Secara fisik, manusia telah Allah ciptakan dengan sempurna. Lalu, mengapa masih saja, ada dari kita yang minder akan anugrah yang telah Allah berikan? Bagaimana pun bentuk kita, status kita tetap hamba dihadapan-Nya. Tak perlu risau, bila ada yang menghina kita. Karena bisa jadi, orang yang dihina itu lebih mulia statusnya dihadapan-Nya.
              2. Ins ( إنس )
Dalam ceramahnya, Ust Adi Hidayat menyampaikan bahwa kata Ins memiliki arti sesuatu yang nampak. Dan bila ditelusuri, kata Ins selalu bersanding dengan Jin yang artinya sesuatu yang tak nampak. Hal ini menunjukan bahwa fitrah manusia itu terlihat dan nampak.
Selain itu, kata Ins juga memiliki arti ramah dan lembut. Bila kita menemukan manusia dengan sifat yang buruk, maka sejatinya dia telah keluar dari fitrahnya. Karena fitrah manusia adalah selalu bersikap ramah dan lembut. Baik dalam beribadah dan juga bermuamalah.
              3. Insan (إنسان)

Bila merunjuk kepada buku manusia paripurna, bahwa kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa, dan raga. Dari sini, perlu direnungkan kala al-Qur’an menunjuk manusia dengan kata insan, karena penunjukan ini mengikat seluruh potensi jiwa dan raganya secara total.
Maka dari itu, sejatinya setiap individu kita dituntut untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Baik secara jiwa dan raga. Karena bila tidak, pribadi tersebut berada di posisi yang rugi. Coba kita lihat, dalam surat ke 103, di sana kata manusia ditulis dengan kata insan. Yang mana bisa kita pahami, bahwa manusia itu berada di posisi yang rugi, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal shaleh, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga kesabaran.
4. Naas
Kata ini lebih mendunjukan kepada aspek sosial. Yang mana setiap manusia harus bisa berinteraksi secara sosial. Baik dia seorang muslim atau non-muslim. Maka, dalam hal sosial, tidak ada batasan untuk melakukan interaksi. Sebagai contoh dalam perniagaan, sebagai muslim diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan non-muslim. Selama perniagaan itu berada dalam jalur yang diperbolehkan negara dan agama. 
Dari pemaparan di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa penamaan manusia di dalam al-Qur’an ditulis secara bervariasi. Ada yang ditulis dengan basyar, ins, insan, dan naas.
Bila ditemukan kata basyar, maka ini menunjukan bahwa setiap manusia diciptakan secara lahiriah. Yang mana mereka butuh makan dan minum. Bila menemukan kata ins, hal ini menunjukan bahwa manusia dituntut untuk dapat bersikap secara ramah dan lembut. Ada juga kata insan, yang berarti bahwa setiap manusia dituntut agar bisa beraktivitas secara totalitas, baik secara jiwa dan raga. Dan ada juga naas, yang berarti setiap manusia harus mampu bersikap secara sosial.
Semoga dari uraian di atas, kita bisa lebih memahami akan penamaan diri kita sebagai manusia. Dan tentunya, fungsi-fungsi penamaan manusia di atas, dapat kita terapkan dan amalankan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadikan diri kita pantas menyandang status khalifah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar