Asal Usul Penamaan Manusia di Dalam Al Qur’an
Ada banyak sekali makhluk yang Allah
ciptakan di dunia ini. Sebut saja jin, iblis, syaithan, tumbuhan, hewan, dan
manusia. Namun, dari sekian makhluk, manusia adalah makhluk yang Allah pilih
untuk mengemban amanah sebagai khalifah. Dalam buku “Manusia Paripurna”
dijelaskan bahwa khalifah adalah misi yang harus diemban setiap manusia
di muka bumi. Karena khalifah sejatinya adalah nama bagi pengemban sifat khilafah,
terambil dari kata khalafa, yang artinya menggantikan yang berlalu.
Manusia disemati nama khilafah karena keberadaannya bersifat sementara
di bumi ini dan akan saling menggantikan dari satu masa ke masa lainnya.
Agar kita bisa mengerjakan misi
mulia itu, perlu sekiranya kita merenungi sejenak, kenapa penciptaan makhluk yang
ditugaskan menjadi khalifah dinamakan Manusia. Karena bila kita
telusuri, di dalam al-Qur’an ada empat kosa kata manusia yang ditulis secara
berbeda. Ada basyar, ins, insan, dan nas. Namun, setiap kata
tersebut memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Mari kita bahas sedikit demi sedikit.
Abu Hilal al-‘Askari menulis, bahwa kata basyar
berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir
kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena
kulitnya tampak jelas dan memiliki penampakan yang indah.
Penciptaan
manusia dengan nama basyar, seakan Allah ingin mengisyaratkan bahwa
secara fisik, manusia itu diciptakan dengan bentuk yang baik. Bahkan,
keterangan ini, bisa ditemukan di Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4, yang berbunyi ;”Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Secara fisik,
manusia telah Allah ciptakan dengan sempurna. Lalu, mengapa masih saja, ada
dari kita yang minder akan anugrah yang telah Allah berikan? Bagaimana
pun bentuk kita, status kita tetap hamba dihadapan-Nya. Tak perlu risau, bila
ada yang menghina kita. Karena bisa jadi, orang yang dihina itu lebih mulia
statusnya dihadapan-Nya.
2. Ins ( إنس
)
Dalam
ceramahnya, Ust Adi Hidayat menyampaikan bahwa kata Ins memiliki arti
sesuatu yang nampak. Dan bila ditelusuri, kata Ins selalu bersanding
dengan Jin yang artinya sesuatu yang tak nampak. Hal ini menunjukan
bahwa fitrah manusia itu terlihat dan nampak.
Selain itu,
kata Ins juga memiliki arti ramah dan lembut. Bila kita menemukan
manusia dengan sifat yang buruk, maka sejatinya dia telah keluar dari
fitrahnya. Karena fitrah manusia adalah selalu bersikap ramah dan lembut. Baik
dalam beribadah dan juga bermuamalah.
Bila
merunjuk kepada buku manusia paripurna, bahwa kata insan digunakan
al-Qur’an untuk menunjukan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa,
dan raga. Dari sini, perlu direnungkan kala al-Qur’an menunjuk manusia dengan
kata insan, karena penunjukan ini mengikat seluruh potensi jiwa dan raganya
secara total.
Maka dari
itu, sejatinya setiap individu kita dituntut untuk memaksimalkan potensi yang
dimilikinya. Baik secara jiwa dan raga. Karena bila tidak, pribadi tersebut
berada di posisi yang rugi. Coba kita lihat, dalam surat ke 103, di sana kata manusia
ditulis dengan kata insan. Yang mana bisa kita pahami, bahwa manusia itu
berada di posisi yang rugi, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal
shaleh, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga kesabaran.
4. Naas
4. Naas
Kata ini
lebih mendunjukan kepada aspek sosial. Yang mana setiap manusia harus bisa berinteraksi
secara sosial. Baik dia seorang muslim atau non-muslim. Maka, dalam hal sosial,
tidak ada batasan untuk melakukan interaksi. Sebagai contoh dalam perniagaan, sebagai
muslim diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan non-muslim. Selama
perniagaan itu berada dalam jalur yang diperbolehkan negara dan agama.
Dari pemaparan di atas, kita bisa mengambil
hikmah bahwa penamaan manusia di dalam al-Qur’an ditulis secara bervariasi. Ada
yang ditulis dengan basyar, ins, insan, dan naas.
Bila ditemukan kata basyar, maka ini
menunjukan bahwa setiap manusia diciptakan secara lahiriah. Yang mana mereka
butuh makan dan minum. Bila menemukan kata ins, hal ini menunjukan bahwa
manusia dituntut untuk dapat bersikap secara ramah dan lembut. Ada juga kata insan,
yang berarti bahwa setiap manusia dituntut agar bisa beraktivitas secara
totalitas, baik secara jiwa dan raga. Dan ada juga naas, yang berarti setiap
manusia harus mampu bersikap secara sosial.
Semoga dari uraian di atas, kita bisa lebih
memahami akan penamaan diri kita sebagai manusia. Dan tentunya, fungsi-fungsi
penamaan manusia di atas, dapat kita terapkan dan amalankan dalam kehidupan
kita sehari-hari untuk menjadikan diri kita pantas menyandang status khalifah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar