Sabtu, 29 Mei 2021

Sudah Shalat, tapi kok Masih Maksiat?



Setiap manusia memiliki tugas yang sama terhadap Rab-nya yaitu beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Tak terkecuali bagi seorang muslim. Mereka memiliki tugas untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangannya. Mengerjakan perintah-Nya saja tidaklah cukup, namun seorang muslim yang taat, hendaknya ia meninggalkan segala larangannya. Dan di sinilah akan terlihat kepribadian seorang muslim, apakah ia taat kepada tuhannya atau malah sebaliknya.

Ketika seseorang telah memilih Islam sebagainya keyakinannya, hendaklah ia mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya. Segala ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam tidak boleh dipilih-pilih semaunya sendiri. Shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya haruslah dikerjakannya bukan malah ditolaknya dan memilih ibadah yang disukainya saja. Ketika ada bentuk ibadah yang ditolaknya, maka tak sempurnalah keimanannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةَ ...

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya..( Al-Baqoroh; 208)

Seorang muslim tidak boleh memaksa saudaranya untuk masuk ke dalam Islam. Namun, bila ia telah masuk Islam, ia harus mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tak boleh memilih semaunya, apalagi ibadah sekehendaknya dengan menabrak aturan syariat yang ada. Termasuk ibadah shalat.

Shalat adalah bentuk ibadah yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang beragama Islam. Dalam Islam, shalat dibagi menjadi dua. Ada yang bersifat wajib dan ada juga bersifat sunnah. Shalat yang wajib bagi setiap muslim adalah shalat lima waktu, yaitu shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Kelima shalat ini menjadi penentu akan keislaman seseorang. Bila ia meninggalkannya, ia mendapat ganjaran berupa dosar besar kelak di akhirat nanti.

Tujuan dari shalat adalah mencegah seseorang untuk tidak berbuat keji dan munkar. Perbuatan keji adalah segala bentuk kejelakan yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti mencuri. Karena tangan menjadi pelaku utama dalam tindakan maksiat ini. Dan perbuatan munkar adalah segala bentuk kejelakan yang diingkar oleh hati, seperti berbohong. Ketika seseorang berbohong, maka hatinya akan mengikarinya. Karena sejatinya, fitrah manusia adalah selalu melakukan kebaikan dan menolak keburukan.

Bila seseorang telah mengerjakan shalat, namun dirinya masih berbuat maksiat, lalu apakah bisa disebut sebagai hamba yang taat?

Bisa jadi, ia hanya mengerjakan shalat dengan semaunya tanpa memahami makna dan bagaimana shalat yang benar itu.

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut: 45)

kata  "اُتْلُ"memiliki arti “Bacalah”. Padahal kata ini bukan hanya diartikan bacalah. Namun bacalah dan pahamilah makna yang lebih lengkap untuk kata di atas. Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya untuk membaca ayat-ayat-Nya dan memahami kandungan-Nya. Tujuannya adalah agar terciptanya kenikmatan dalam shalat. Bila hal ini telah dirasakan, tak mungkin rasanya akan timbul perbuatan keji dan munkar dalam prilakunya.

Shalat adalah bentuk interaksi antara hamba dan Allah. Saat shalatlah, seorang hamba menjadi sangat dekat dengan tuhannya. Maka tak heran, bila seseorang memiliki masalah, lalu ia beralih ke aktivitas shalat, maka setelah itu akan terasa ketenangan. Walau masalah belum selesai, namun rasa tenang akan terasa di hati.

Bila kita koreksi diri, sudah berapa persen bacaan shalat yang sudah kita hafal dan paham? Sudah kah kita khusyuk dalam shalat? Atau jangan-jangan, shalat yang kita kerjakan hanya pengugur kewajiban? Atau bahkan hanya sekedar shalat agar dikatakan sebagai shalat muslim?

Masih ada waktu untuk memperbaikannya. Hidayat-Nya sangat terbuka. Magfirah-Nya selalu ada untuk hamba-Nya. Selagi masih bisa untuk diperbaikinya, kenapa harus menunda? Jangan sampai menyesal, karena waktu tak bisa diputar. Perbaiki shalat, agar hidup ini tak bergelimang dengan maksiat agar kelak menjadi hamba yang taat.      

 

 

 

 

 

 

 



Rabu, 31 Maret 2021

Resensi Buku Indiva 2020

 

Judul Resensi             : Walau Berbeda, Dia Tetap Ayahku

Nama Buku                 : Ayah Aku Rindu

Penulis                         : S Gegge Mappangewa

Penerbit                      : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit               : 2020

Halaman                     : 192 Halaman

Harga                             : 35.000

        

          Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan. Begitulah sedikit kutipan dari buku karya S Gegge Mappangewa tersebut.

          Namun, bagaimana rasanya, bila musibah berupa kematian seorang ibu menimpa anak laki-laki? Bukan hanya itu, ayahnya yang dicintainya pun, turut mengalami depresi akibat kematian istrinya. Tentunya hal ini amat berat untuk dilewati. Namun, luka akan datang tanpa harus diundang.

         Buku Ayah Aku Rindu ini mengisahkan tentang perjuangan anak laki-laki dalam melewati luka dan duka kehidupannya. Rudi, sebagai tokoh dalam buku ini, harus tegar akan kematian ibunya. Ia pun harus berjuang untuk menyembuhkan ayahnya agar sembuh dari depresi yang dialaminya.

        Dampak depresi yang dialami oleh ayahnya membuat Rudi kian diejek oleh teman-temannya. Sapaan “anak orang gila” disematkan kepadanya. Namun, anak lelaki Pak Gilang itu tak menghiraunkan. Justru dirinya terus berusaha untuk mendekati ayahnya agar ingatannya cepat pulih. Tapi sikap kasar kerap kali didapatnya. Bahkan, hasrat membunuh kian memuncak, tiap kali sang ayah melihat putra tunggalnya itu.

          Pak Sadli juga mengalami hal serupa. Sikap kasar ayah Rudi juga dirasakan oleh guru Rudi tersebut. Depresi Pak Gilang membuat dua laki-laki di dekatnya itu, Rudi dan Pak Sadli menjadi sasaran ambisi untuk dihabisinya. Namun anehnya, sikap jahat ini hanya dilontarkan kepada mereka saja. Selain itu, ayah Rudi juga sering menyebut dirinya dengan “Nenek Mallomo”. Rudi pun semakin bingung dengan keadaan yang menimpa orang yang dicintainya itu. Opsi untuk dibawa ke Rumah Sakit Jiwa pun menjadi pilihan bagi lelaki yang sedang depresi itu. Walau Rudi sangat berat untuk menerima kenyataan tersebut.

Dari pemaparan di atas, maka timbul pertanyaan, siapa sebenarnya Nenek Mallomo itu? Mengapa hal ini bisa terjadi kepada Pak Gilang? Apakah ada kisah pahit yang dulu pernah dialaminya sehingga menyebabkan depresi yang sebegitu hebat?

         Bila kita berada di posisi Rudi, akankah kita menjauhi sosok ayah? Atau justru sebaliknya, menyayangi dan berusaha mendekat seperti halnya yang anak laki-laki itu lakukan?

Unsur budaya lokal juga sangat terasa dalam karya ini. Latar Kota Sidrap, Sulawesi Selatan dan kisah Nenek Mallomo menjadi kelebihan dari novel ini. Rasanya masih banyak yang belum tahu akan kota tersebut. Di tambah mitos yang diangkat dalam buku ini menjadi misteri yang patut untuk dibaca dan dituntaskan.

            Novel ini juga kaya akan misteri. Di mana keberadaan “Cincin Batu Sisik Naga” menjadi teka-teki yang menjadi kode untuk dipecahkan. Benda berharga itu milik ayah Pak Sadli. Semasa hidup, Pak Ramli dikenal sering berjudi dan menghabiskan harta keluarga. Semua barang-barang rumah habis terjual, kecuali cincin itu.

Di sisi lain, Rudi pun memiliki ketertarikan dengan cincin yang dikenakan oleh Pak Sadli itu. Hingga akhirnya anak Pak Ramli itu memberikan benda berharga itu kepada Rudi. 

            Beberapa kejadian di atas menjadi menarik untuk dibaca. Kenapa ayah Pak Sadli tidak menjual cincin itu? Walaupun harga yang disodorkan kepadanya mahal?

Begitu pula dengan Rudi, kenapa dirinya begitu tertarik untuk memiliki benda itu? Apakah ada keterkaitan antara dirinya dengan Pak Ramli?

          Penulis sangat piawai dalam menulis novel ini. Misteri yang dihadirkan sangat memacu diri untuk terus menelusuri akan jawaban dari teka-teki yang ada. Bahasa yang digunakan juga sangat luwes dan mengalir. Pembaca pun sangat dimanjakan untuk terus membaca cerita apik ini. Tiap halaman yang disuguhkan seakan membuat pembaca ingin terus membuka dan melanjutkan membaca novel karya Gegge tersebut.

            Tak heran bila buku ini bisa menjadi juara dalam kompetisi menulis Indiva tahun 2019. Alur cerita yang tak mudah ketebak, unsur budaya lokal yang diangkat sangat memikat, dan bahasa yang ringan dan mudah dipahami menjadi beberapa kriteria buku ini menjadi diunggulkan.

           Penulis mengajak kepada para pembaca agar senantiasa berbakti kepada ayah, walau orang yang disayang itu dalam keadaan depresi. Selain itu, kesabaran dan ketaatan kepada orang tua juga disuguhkan oleh penulis dan perlu dicontoh oleh remaja-remaja di negeri ini.

 

 

Biodata

Nama              : Endri Prasetyo

Akun Medsos

Instagram        :@endri.prastyo

Fb                    : Endri Prasetyo

Blog                 : wwwaksarahikmah.blogspot.com

No Hp              : 082298315332 

Jumat, 05 Februari 2021

The Power of Writting!

Jangan Banyak Mikir untuk Menulis!

        Kunci ketika kita ingin belajar menulis adalah jangan banyak mikir untuk menulis. Hal ini penting agar setiap apa yang kita tulis tidak menjadi beban. Asalkan tulisan yang kita tulis tidak dipublikasikan. Karena bila ingin dipublish, ada norma-norma yang harus diperhatikan agar apa yang ditulis bisa diambil manfaatnya bukan malah meresahkan.

        "Saya nggak PD buat nulis. Tulisan saya jelek". Ini sering sekali ditemukan bagi siapa saja yang ingin mulai menulis. Padahal kita nggak tahu, apakah tulisannya jelek atau sebaliknya? Bisa jadi dirinya berasumsi tulisannya jelek, tapi bagi teman kita malah berkesan atau bermanfaat. 

           Ketika awal-awal saya menulis. Ada rasa takut yang menahan jari-jari untuk mengetik. Ide sudah ada. Waktu cukup luang. Tapi rasa takut selalu membayangi untuk mulai menulis. Namun, perlahan hal ini bisa saya lewati hingga kini mulai terbiasa untuk membangun kebiasaan untuk menulis. Intinya adalah NULIS AJA!

         Saya mulai menyadari bahwa teori terpenting dari menulis adalah berani mulai menulis tanpa harus tertahan oleh sebuah teori. 

         "Tulislah apa yang dekat dengan kamu". Ini pesan dari guru saya, kalau ingin nulis itu dimulai dari apa yang kita tahu dan dekat dengan ini. Saya pun mulai berfikir, kira-kira gaya tulisan saya itu ke arah mana yah?

              ARTIKEL! Tak butuh banyak halaman, namun penuh akan pesan. Artikel menjadi langkah awal saya untuk mulai menulis. Ketika ada ide untuk menulis, saya mulai mencatat point-point apa yang harus tulis. Lalu, ketika sudah di depan laptop, saya hanya menyatukan point-point itu dalam satu tulisan yang tersusun layaknya sebuah artikel.

         Jika menulis tanpa sebuah tantangan, rasanya ada yang kurang. Saya mulai menantang diri, bisa nggak sih tulisan saya itu dilirik oleh teman-teman. Dan Alhamdulillah, tahun 2020 tulisan saya bisa dilirik. Walau tidak semua tulisan bisa masuk nominasi juara.

      Lomba ini diadakan oleh salah satu kampus swasta di Jakarta. Temanya yang dilombakan masih seputar covid-19. Karena tahun 2020, tahun duka. Wabah masih melanda. Orang-orang juga merasakan dampak yang luar biasa. Mulai faktor kesehatan, sosial, dan ekonomi menjadi tertahan karena dampak wabah ini.

        Dalam rangka Milad FLP Jakarta Raya, pengurus mengadakan sebuah sayembara kepenulisan. Di antara lomba-lomba yang diadakan adalah cerita pendek, puisi dan artikel. 
      Saya memilih artikel untuk sayembara kepenulisan dengan pertimbangan waktu yang ada. Karena waktu yang tersedia sangat terbatas. Terlebih deadline-nya pun hanya tinggal hitungan hari saja. Dan Alhamdulillah, tulisan saya pun dilirik oleh panitia.
            
    Selang beberapa hari, FLP Bekasi juga mengadakan perlombaan menulis. Temanya pun seputar Kota Bekasi. Saya menulis tentang "Syiar Islam dari Pusat Kota Bekasi". 
     Islamic Center Bekasi adalah simbol dari syiar Islam di Bekasi. Di mana agenda-agenda keislaman sering diadakan di sini. Ini adalah gagasan yang saya tulis agar kita semua bisa mengoptimalkan peran Islamic Center Bekasi.
        
    
        Semua kita bisa menulis. Peran tulisan bukan hanya menyasar satu orang saja. Tapi juga menyasar banyak orang. Kita punya tugas dakwah. Baik melalui lisan atau juga tulisan. 



Jumat, 16 Oktober 2020

SEMANGAT BERBAGI DI ERA BARU

 

Menebar kebaikan bersama al-Qur’an

            Islam adalah agama yang penuh kedamaian. Karena di Islam, seorang muslim tidak hanya bermuamalah kepada Allah saja, melainkan, dirinya juga harus bisa bermuamalah dengan sesama manusia. Baik yang seiman ataupun yang tak seiman.  Di antara bentuk muamalah yang bisa dilakukan sesama manusia adalah membantu saudara-saudara yang kesulitan, memberikan manfaat kepada sesama, mengajak orang-orang untuk berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Dari sanalah akan timbul rasa ketenangan, kedamaian, dan rasa saling menghormati sesama manusia.

                 Selain itu, perintah berbagi pun telah Allah terangkan dalam al-Qur’an:

           مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

                 “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh:261)

          Allah akan membalas kebaikan seorang muslim sebanyak sepuluh kali lipat. Namun, bila seseorang muslim membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka ganjaran yang diterimanya akan berlipat-lipat, bahkan bisa mencapai 700 kali lipat. Namun, Allah bisa saja membalasnya lebih dari itu, karena Allah Maha Memberi dan Maha Pengasih.

             Kehidupan ini bukanlah sebatas individualisme saja. Karena sejatinya manusia memiliki sifat sosial. Di mana dirinya hidup secara bermasyarakat dan berkelompok. Di kala susah, tentunya ia akan membutuhkan bantuan seseorang. Bisa saudara, tetangga, kerabat atau bahkan orang yang tidak dikenal. Di kala senang, dirinya bersyukur dan melibatkan Allah atas segala kenikmatan yang didapatkannya. Tentunya, kenikmatan itu juga ditebar di kalangan orang-orang yang berada di sekitarnya. Rasulullah SAW pernah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ      

        “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

             Kebaikan yang dilakukan oleh seseorang, sejatinya akan kembali kepada dirinya sendiri. Apa yang diperbuatnya akan memberikan dampak positif bagi kehidupannya. Begitu pula sebaliknya, keburukan yang dikerjakannya akan berdampak negatif kepada dirinya pula.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

          “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri … “ (QS. Al-Isra:7)

     Berbagi itu tidak perlu menunggu harta menumpuk atau melimpah, tetapi berbagi itu setiap waktu. Baik dalam lapang ataupun sempit. Berikut adalah beberapa kegiatan ami dalam menebar kebaikan bersama al-Qur’an.

      Kala itu, Yayasan Nida Al-Syakur yang bertempat di Pekayon, Bekasi mengadakan santunan anak yatim yang bertepatan di hari Ahad, 7 September 2020. Di antara bentuk santunan yang diberikan kepada mereka adalah uang secukupnya dan wakaf al-Qur’an. Kami pun memutuskan untuk memberikan al-Qur’an wakaf agar mereka bisa lebih dekat dengan Islam. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sebaik-baiknya diantara kalian adalah siapa yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”

           Kami pun sadar bahwa dengan berbagi, hidup seakan lebih bermakna. Harta yang kita miliki bukanlah yang tersimpan di bank atau rekening pribadi, melainkan harta yang kita miliki  adalah apa yang kita infakkan atau berikan kepada orang lain. Terlebih kepada anak-anak yatim, karena sesungguhnya merekalah orang-orang yang sangat dengan Rasulullah kelak di hari akhir.

Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggankan keduanya. (HR. Bukhari)

            Sadesha (Satu Desa Satu Hafidz) adalah program yang digagas oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang menargetkan 3000 Hafidz di tahun 2020. Kala itu, kami memberikan wakaf al-Qur’an untuk salah satu masjid yang ikut berpartisipasi dalam program ini. Kami pun berharap agar setiap apa yang mereka usahakan, baik ketika membaca al-Qur’an, menyelami kandungan ayatnya, atau menghafalnya akan menjadi amal jariyah bagi para wakif dan orang-orang yang turut serta dalam mensukseskan program ini.

           Tahun 2020 pun menjadi tahun yang sulit bagi kita. Di mana pandemic covid-19 menjadikan semua sektor menjadi melambat. Krisis kesehatan, sulitnya lapangan pekerjaan, dan melambatnya proses pembelajaran menjadikan semua harus bisa bertahan dan berjuang menghadapi pandemic ini. Semua dituntut untuk berbuat. Yang kelebihan harta membantu saudaranya yang kekurangan. Mereka yang kekurangan juga dituntut untuk bersabar akan musibah ini. Yakinlah bahwa Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

          Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (QS. Al-Baqoroh:286)

Mari kita pupuk “Semangat Berbagi di Era Baru (https://www.ucareindonesia.org/)” bersama “LAZ U Care Indonesia (https://www.ucareindonesia.org/  )”. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah nilai. Kita hanya berusaha agar semua apa yang kita lakukan dapat dinilai baik oleh Allah dan Dia ridha atas apa yang kita lakukan. Hilangkan rasa “riya” karena itu bisa menjadikan amal-amalan kita sia-sia dihadapan-Nya


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.”



 

Selasa, 15 September 2020

I am a Good Looking

Apa yang salah dengan “Good Looking”?


Bila kulit manusia adalah organ perasa yang paling sensitif. Maka, rasanya iman seorang muslim pun amat sangat sensitif akan kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu. Masih ingatkah kita akan statement dari salah satu pemangku jabatan di negeri ini bahwa good looking adalah sumber radikalisme?

Pernyataan ini sempat viral di media-media di negeri ini. Baik di Instagram, Youtube, atau berita-berita online. Rasanya kita masih ingat akan pernyataannya bahwa dulu ia pernah menyampaikan akan larangan memakai celana cingkrang dan cadar di lingkungan ASN. Dan anehnya, ini terulang kembali. Ia menyatakan bahwa orang yang penampilannya terlihat apik dan pandai berbahasa arab seakan menjadi sarang radikalisme dan termasuk orang yang harus diwaspadai.

Padahal, good looking atau hafidz sendiri memiliki arti yang baik yaitu orang yang memiliki kepribadian baik. bukan hanya itu, ia juga memiliki kedekatan dengan kitabullah. Lalu, dimana celah yang harus diwaspadai? Bukankah orang yang dekat dengan al-Quran adalah orang yang baik? Sebagaimana Rasulullah sampaikan :”Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”


Tak hanya itu, bila orang-orang saat ini lebih gemar dan bangga dengan Bahasa Inggris. Maka, sebagai umat Islam pun kita memiliki kebanggaan yaitu bisa menguasai Bahasa Arab. Karena ini adalah bahasa al-Qur’an. Dengan menguasai Bahasa Arab, seorang muslim akan sangat mudah untuk menghafal dan memahami isi al-Quran.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (yusuf:2)

Bahasa Arab adalah bahasa yang sudah ada dari zaman Nabi Ismail As hingga saat ini. Bahasa ini pula memiliki beragam makna. Bahkan, Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql)

Selain itu, salah satu imam fiqh, yaitu Iman As-Syafi’I berkata, “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321). Melalui pernyataan di atas, rasanya sudah jelas bahwa menguasai Bahasa Arab adalah keharusan. Bukan keterpaksaan. Bila belajar Bahasa Inggris harus rela untuk berjuang demi menggapai nilai duniawi. Lalu, mengapa berjuang untuk menggapai akhirat, rasanya amat berat?

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Itulah yang perlu diwaspadai. Terlebih saat ini, kita berada di akhir zaman. Segalanya seakan indah di awal. Namun, amat durjana di akhir. Teramat banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang manis di lisan namun amat sangat ingkar untuk dikerjakan. Bahkan cenderung ditinggalkan. Maka, perkara ini pun telah Allah sampaikan dalam kitab-Nya.

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqoroh:204)

          Banyak yang pandai membuat janji, namun amat sulit untuk ditepati. Terlalu banyak duri untuk negeri ini, namun teramat sulit obat untuk mengobati. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Itulah yang terlihat dari negeri ini. Sudah saatnya kita saling membantu dan berbagi. Bukan hanya sebatas materi, tapi juga ilmu dan pengajaran akhlak dan budi pekerti agar bangsa ini memiliki akhlak yang terpuji. 

Selasa, 28 Juli 2020

Khazanah Islam

Bulan Bersinar di Bumi Eropa

            Awan gelap masih terlihat di belahan bumi ini. Virus corona yang dulu dianggap remeh, kini menjelma bagaikan awan-awan gelap yang menghiasi langit-langit bumi. Semua manusia seakan takut akan kegelapan itu. Mereka seakan membutuhkan sebuah cahaya agar jalan hidup yang akan dilalui terlihat jelas.

           Korban-korban berjatuhan, vaksin belum ditemukan, ekonomi kian tak terkendalikan, bahkan sampai menimbulkan kemiskinan. Inilah yang dihadapi oleh semua bangsa. Mereka hampir memiliki problem yang sama. Tak terkeculi negeri-negeri muslim.

             Namun, di sisi lain, ada cahaya rembulan bagi umat Islam yang muncul dari negara Turki, yaitu dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Bukan lagi sebagai museum sebagaimana kaum-kaum sekuler menjajahanya.

           Menurut Wikipedia, Hagia Sophia adalah sebuah tempat ibadah di Istambul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekuasaan Latin Konstantinopel.


            Bangunan ini mulai menjadi masjid sejak 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Febuari 1935 oleh Republik Turki. Dan kini, tepatnya 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah illegal. Dan kini dibuka kembali menjadi tempat kebanggaan umat Islam, yaitu masjid.

               Sontak, ini menjadi suatu kegembiraan bagi umat Islam di Turki. Bahkan tak hanya itu, semua umat Islam di belahan bumi ini pun turut mengapresiasi atas tindakan presiden Turki untuk kembali membuka Hagia Shopia menjadi masjid. Hal ini bukannya tindakan gegabah semata. Karena bila salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, bahkan kaum sekuler akan bisa membalikan keadaan dengan secepatnya.

      Penaklukan wilayah Turki bukanlah tanpa perjuangan yang mudah. Jutaan nyawa, tetesan darah syuhada, menjadi saksi betapa gigihnya tentara muslim untuk menaklukan negeri Heraklius ini. Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dahulu dikuasai.” (HR Ahmad)

       Saat itu, Heraklius adalah raja Romawi Timur atau Byzantium yang beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baiknya pasukan yang mengalahkan Konstantinopel adalah pasukannya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

              

         Waktu yang dibutuhkan oleh umat Islam untuk menaklukan bumi Turki sangat lama. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan pernyataan Rasul di atas. Di tahun 6 H, Rasulullah pernah mengirim sebuah surat kepada Heraklius yang isinya adalah ajakan untuk masuk Islam. Tapi, beliau menolaknya. Namun, saat ini, di dalam benaknya ada firasat, bahwa kelak Islam akan bisa menduduki bumi yang dipijaknya saat ini.

            Selepas perjuangan sahabat, tongkat estapet perjuangan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan, salah satu sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari menjadi syahid saat pertempuran itu dan jasadnya dikuburkan di bawah banteng Konstantinopel.

                Nafas kemenangan terlihat di hari selasa, pukul 3 pagi, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah panglima Sultan Muhammad Al Fatih, Khalifah Turki Utsmani yang ke-7, Konstantinopel bisa ditaklukan. Dan Hagia Sophia yang dulunya gereja dialihkan fungsikan menjadi masjid. Sang sultan memerintahkan pula agar Konstantinopel diubahnya namanya menjadi Istambul yang artinya Kota Umat Islam.  Dan kini, kita semua bisa melihat itu semua.

                Sinar bulan kini telah menerangi bumi eropa. Bumi yang dianggap menjadi titik tertinggi bagi peradabaamn saat ini. Yang kita, sebagai umat Islam berharap agar syiar-syiar bisa terus bergema di bumi seantero ini.