Cara Mengelola Keuangan di tengah Krisis Pandemi
Setiap manusia memiliki beban hidup yang berbeda. Begitu pula
dengan cara menyelesaikannya. Ada yang diberi ujian ringan, dia dengan mudah
menyelesaikannya. Namun, ada yang diberi ujian berat, dia juga tak mengeluh
untuk menyelesaikannya. Ujian yang telah
Allah berikan, sejatinya adalah sesuai dengan kadar kemampuan hambanya. Tak ada
ujian tanpa adanya solusi.
Saat ini, Allah
sedang menguji kita dengan virus corona. Wabah ini menyerang semua kalangan.
Baik anak-anak, dewasa, hingga lansia merasa khawatir akan keberadaan wabah
ini. Ketakutan di mana-mana. Bahkan, sebagian orang ada yang membatasi
aktivitasnya. Seperti pembelajaran jarak jauh bagi murid sekolah dan gurunya.
Dan ada juga Work From Home bagi sebagian yang bekerja di sektor formal.
Pemberitaan di
media pun banyak yang berisikan akan krisis ekonomi. Di sektor ekonomi banyak
sekali perusahaan yang memberhentikan karyawan. Hal ini membuat sebagian
orang-orang tidak memiiliki penghasilan. Ada yang merubah pola hidupnya. Yang
biasanya berfoya-foya, kini lebih berhemat. Ada juga yang masih mengandalkan
bantuan social dari pemerintah. Perputaran ekonomi tak berjalan stabil.
Penerapan PSBB
(Pembatasan Sosial Berskala Besar) membuat ekonomi berjalan lambat. Bahkan, pembatasannya
pun mulai berdampak pada masyarakat. Ojek online tidak boleh mengambil
penumpangnya, rumah makan ditutup, dan pasar-pasar pun dibatasi jam kerjanya. Bahkan,
yang lebih mirisnya lagi, banyak karyawan yang diberhentikan lantaran lesunya
aktivitas ekonomi. Maka, sebelumya kondisi makin terpuruk, perluanya membangun
mental juang demi bisa melawan keadaan yang tak mengenakan ini. Dibutuhkan strategi
agar kehidupan ini berjalan dengan baik, seperti halnya hal-hal di bawah ini:
1. Membiasakan untuk berhemat
Bagi kalian
yang pola hidupnya boros, mewajibkan hidup untuk berhemat itu tak mudah. Kebiasaan
boros itu membuat kondisi saat ini tidak cocok. Kalian harus benar-benar
mengatur keuangan agar bisa stabil. Terlebih bagi pelaku UMKM yang
pendapatannya tak menentu. Dibutuhkan strategi yang jitu akan usahanya tetap
berlanjut.
Bagi pelaku
usaha, marginal cost yang dibutuhkan harus diperhitungkan. Hal ini tentunya
akan berdampak bagi produknya yang dihasilkan. Misalkan, bila sebelum pandemic,
terbiasa menggunakan kemasan yang mahal, kini dirubah ke kemasan yang standar.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah produk yang jual tetap bernilai, walau
ada beberapa komponen yang dikurangi.
2. Menabung untuk Dana Darurat
Dana tabungan darurat
adalah satu opsi yang bisa diandalkan saat kalian berada di posisi yang
mendesak. Dana ini digunakan bila kalian menghadapi situasi yang tak pernah
terpikirkan. Seperti hal wabah corona ini. Semua orang tak pernah menyangka
bahwa wabah ini akan berdampak serius bagi semua orang.
Kalian harus
memisahkan antara dana harian dengan dana darurat. Dana harian digunakan untuk
pengeluaran harian atau bulanan. Namun, dana darurat itu lebih dijaga dan
disimpan. Dan dana ini digunakan bila kalian menemui situasi yang sudah
mendesak. Dengan begitu, kalian bisa bernafas sejenak di saat kondisi seperti
ini.
3. Investasi yang aman
Ombak pandemic
corona membuat para investor membidik instrumen yang lebih aman. Sahan dan redaksana
yang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, kini cenderung melemah. Karena mereka
berspekulasi bahwa saat ini, kedua instrument ini lebih rentan merugi. Dan para
investor cenderung menahan dananya karena kondisi ekonomi yang belum stabil.
Di saat ini,
instrument yang aman untuk berinvestasi adalah menyimpan emas. Kalian cukup
membelinya, lalu menyimpannya. Adapun lamanya, kalian bisa menyimpannya paling
tidak lima tahun. Lalu setelah itu terserah kalian, mau menjualnya kembali atau
tetap menyimpannya. Maka, tak heran bila harga emas saat ini melonjak tinggi.
Bahkan, untuk harga satu gram saat ini berada di kisaran satu juta perkeping.
Dari poin-poin di atas, perlunya
menanamkan pola pikir positif dan rasa optimis menghadapi situasi yang krisis
ini. Di tahun 1998, negara ini juga mengalami krisis ekonomi. Namun, perlahan
bangsa ini mampu untuk melaluinya. Bahkan, IMF (Internasional Monetery
Federation) memprediksi bahwa bangsa ini termasuk dalam negara yang selamat
dari krisis ekonomi. Walau angka yang ditunjukan masih terbilang kecil.

















