Sepertinya yang
saya ulas tadi, novel “Laskar Pelangi: menjadi daya tarik bagi para penikmat
novel. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Bahkan, filmnya pun
juga sudah diterbitkan ke dalam bahasa asing. Nah, tentunya ini menjadi
kebanggaan tersendiri bagi kita, karena ada salah satu anak negeri yang
karyanya sudah diakui oleh dunia luar. Bahkan, ada salah satu pembaca dari luar
negeri sana yang baru tahu, bahwa di bumi ini ada negeri Indonesia. Negeri yang
terkenal akan pesona alamnya. Kebanyangan nggak tuh, kalau nggak ada
bukunya, sepertinya ia nggak tahu, di mana Indonesia. Hehe..
 |
| saungbelajaraisyah.blogspot.com |
Eits, tapi
kali ini saya nggak akan membahas buku itu. Tapi buku lainnya yang menurut
saya, biasa aja. Kok gitu? Ya..kalau dilihat dari judulnya sih, begitu. Karena
yang membuat buku itu menarik, kan judulnya. Tapi nggak tahu sih
isinya. Tapi setelah saya baca tuntas, ternyata pandangan saya berubah 360
derajat. Yah, inilah kehebatan penulis. Semua prediksi kita sirna. Karena ending
dari buku tersebut, berbeda dari apa yang kita kira. Lalu, kira-kira gimana isi
dari novel itu? Yuk, kita ulas di tulisan selanjutnya.
Buku “Ordinary
People” atau yang dikenal dengan Orang-Orang Biasa adalah buku karya Andrea
Hirata yang diterbitkan pada tahun 2019 yang diterbitkan oleh PT Bentang
Pustaka. Salah satu penerbit yang terletak di kota Yogyakarta. Kota yang
menjadi primadona bagi para perantau penikmat seni dan ilmu. Nah, bila
kalian ingin belajar bercerita dengan gaya Melayu, maka buku-buku Andrea Hirata
bisa jadi referensinya seperti halnya buku ini.
Selain kental
dengan nuansa Melayu, kelebihan dari penulis ini adalah banyaknya tokoh dalam
serial ceritanya. Seperti halnya di “Laskar Pelangi” yang sempat booming, di
sana banyak sekali tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya. Walaupun Lintang dan
Ikal yang menjadi tokoh penting dalam serial itu. Namun, peran pemain lainnya
tidak boleh dilupakan. Inilah salah satu kejeniusan dari beliau, yang bisa
memainkan banyak tokoh dalam ceritanya.
Dalam buku “Orang-Orang
Biasa” pun ada banyak tokoh, sebut saja ada Salud, Junilah, Sobri, Tohirin,
Rusip, Nihe, Handai, Honorun, Dinah, dan Debut. Semua karakter ini orang-orang
biasa. Bahkan, di bawah biasa. Sebut saja Sobri dan Honorun, kedua tokoh ini digambarkan
sebagai tokoh yang lambat berfikir dan merupakan anak-anak yang pesimistis yang
tak punya cita-cita. Sobri pun diceritakan sudah tiga kali tidak naik kelas dan
dia pendiam. Dia diam bukan lantaran dia pendiam. Namun, kalau dia ngomong,
nadanya sangat keras dan tak mengenakan telinga. Nah, kebanyakan gimana
nggak tuh, karakter Sobri.
Ada juga Rusip
dengan karakter sebagai anak yang bodoh dan jorok. Ada Dinah, yang mengalami
psikosomatis. Suatu gejala fisik akibat tekanan batin yang hebat. Setiap
pelajaran Matematika, dia selalu sakit perut. Bahkan, sebelum gurunya masuk,
dia selalu komat-kamit seperti orang baca doa tolak bala. Ada Nihe dan Junilah
yang sukanya dandan, walaupun itu saat jam pelajaran. Untuk karakter lainnya,
bisa dibaca bukunya yah.
Suatu ketika, mereka berencana untuk mencuri suatu
bank untuk misi tertentu. Kebanyangan tuh, orang-orang kayak mereka mau
merampok. Bahkan, mereka sampai rapat puluhan kali untuk misi ini. Yang hasil
rapatnya pun nggak ada. Ketika kita baca di part ini, mungkin akan
timbul di benak kita, “Paling nggak berhasil.” Itu yang saya pikirkan.
Namun, ternyata semua berbeda, ketika mereka sudah melakukan aksi di bank yang
mereka tuju. Kok bisa? Silakan dibaca aja yah.
Tim mereka terbagi
menjadi dua. Tim pertama, bertugas untuk merampok bank. Dan tim kedua bertugas
menggarang toko emas. Keduanya pun berhasil dengan cara merampok yang unik.
Kenapa begitu? Walau mereka berhasil mencuri uang di bank, tapi mereka tak
mengambil uang tersebut. Aduhh, nggak kebayang deh, cara berfikir
mereka. Begitu pula pencurian di toko mas. Walau mereka berhasil menggarangnya,
tapi uang yang diperoleh, bukan untuk mereka. Lalu untuk siapa? Ups,
baca bukunya ya!
Nah, pesan
moral yang bisa kita ambil dari buku ini adalah mensyukuri apa yang ada. Menusia
tercipta sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Yang kurang adalah manusia
itu kurang mensyukuri akan segala hal yang ia terima. Dalam buku ini, kita akan
bisa menyadari bahwa mereka, Sobri dkk hanyalah orang-orang biasa. Namun,
mereka menjalani hidup dengan cara mereka tanpa mengkufuri apa yang telah
mereka miliki. Dan jangan pernah membandingkan apa yang kita miliki dengan yang
orang lain miliki. Karena semuanya sudah sesuai dengan kadar kebutuhan yang
kita hadapi.
|
Kebayangan tuh, maksudnya apa ya?
BalasHapusHai kak Endri. Wah, review buku yg menarik n orisinal. Saya, sebagai pembaca kok jd tertarik sama bukunya.
BalasHapusMungkin saran sy hanya, bisa kk tambahkan pendapat pribadi kk ttg 'kekurangan' buku ini. Hehe, mungkin bisa jd malah bikin lebih penasaran dgn buku ini.
Tetap semangat, ya kak!
Keren. Duh, makasih ya udah bikin penasaran sama bukunya. 👍👍👍
BalasHapus