Seberapa
Kuat Pendidikan Indonesia Melawan Covid-19?
Bulan Juni 2020, Indonesia masih menghadapi pandemi covid-19 yang
tak kunjung reda. Perubahan siklus dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)
menjadi AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) belum menemukan titik temu yang
mengutungkan. Bila masih menerapkan PSBB, maka imbasnya adalah ekonomi. Roda
perekoniman terhenti PHK makin banyak, dan pelaku UMKM kian gulur tikar. Oleh
sebab itu, perubahan konsep dirubah menjadi AKB. Yang mana, semua sektor
perlahan mulai digerakan. Mulai sektor ekonomi, birokrasi, dan juga pendidikan.
Bila masalah-masalah ini tak
diperhatikan, maka dampaknya adalah generasi setelah kita. Mengutip dari CNN
Indonesia, dari hasil survey PISA ( Programme for Internasional Student
Assessment), skor rata-rata Indonesia menurun di tiga bidang kompetensi dengan
penurunan paling besar di bidang membaca, matematika, dan sains. Selain itu,
besarnya persentase siswa berprestasi rendah, dan yang paling krusial adalah
tingginya ketidakhadiran siswa di kelas. Artinya masih banyak siswa/i yang
tidak hadir saat berlangsungnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).
Kalau sudah
begini, apakah pendidikan di negara ini akan makin merosot? Terlebih saat ini,
penyeberan virus corono belum meredam. Masih banyak orang tua yang takut, jika
anak-anaknya berpergian ke luar rumah. Jika melihat data, tentunya sangat
miris. Karena pendidikan di negara ini seakan terhambat. Pemerintah pun
mengupayakan beberapa penyesuain untuk mempersiapakan pola pembelajaran selama
masa pandemi. Salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh atau yang disingkat
PJJ.
Penyesuian tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020
tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud, serta
Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan
Pendidikan.
Namun permasahannya, apakah semua murid mampu untuk melakukan
pembelajaran jarak jauh? Lalu, apakah semua
orang tua siap untuk membantu tercapainya program ini?
Mengutip dari harian Kompas.com, selama pembelajaran jarak jauh,
tugas bisa hadir saja hadir setiap hari. Situasi rumah pun tak kondusif untuk
belajar. Karena di sana tidak ada guru yang mendampingi. Hal ini menjadikan
kebosanan bagi anak-anak dalam belajar. Dan tak jarang, orang tua yang melaporkan
kejadian ini kepada gurunya. Mulai dari kebosanan, kesulitan dalam belajar,
hingga tugas yang kian banyak dibanding pembelajaran secara tatap muka.
Selain itu, selama
masa pembelajaran jarak jauh, peran orang tua lebih kepada penuntasan tugas
siswa. Jadi yang belajar orang tuanya, bukan anaknya. Karena kebanyakan
anak-anak lebih bersikap pasrah dan seakan tak ingin menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh guru.
Namun, hal ini
masih baik. Karena ada di beberapa sekolah yang tidak sama sekali menerapkan KBM.
Baik yang sifatnya tatap muka atau online. Anak- anak seakan bebas tanpa ada
aturan untuk belajar. Dan orang tua pun tak melarangnya. Padahal, dalam konsep
pendidikan Islam, orang tua adalah sumber pembelajaran yang utama. Baru setelah
itu sekolah, lalu lingkungan.
Banyak kisah-kisah
terdahulu, yang sangat menginspirasi akan bagaimana peran orang tua dalam
mendidik anak-anaknya. Ada kisah keluarga Imran dan Hana, istrinya. Pasangan
ini melahirkan Maryam. Sosok wanita mulia yang namanya disebutkan dalam hadits
nabi. Dan dari Maryam, lahirlah Isa.
Sosok nabi yang agung dan mulia. Keluarga Imran adalah salah satu kisah yang
Allah berikan akan kita sadar, bahwa pendidikan yang paling utama adalah di
keluarga. Dengan adanya kisah berikut, seharusnya para orang tua bersemangat
untuk mendidik anaknya. Karena bisa jadi, inilah kesempatan berharga yang telah
Allah berikan, Bukan malah menjadikan beban kehidupan.
Pandemi ini, masih
belum usai. Terkhusus kepada para orang tau, jangan menyalahkan keadaan. Jangan
pula menyalahkan pemerintahanan. Perluanya peran orang tua saat ini jauh lebih
penting untuk kemajuan anak-anak dalam belajar. Baik sekolah menerapkan system
online atau tidak. Orang tua menjadikan kunci penting dalam terwujudnya
generasi yang maju dan mandiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar