Senin, 29 Juni 2020

Seberapa Kuat Pendidikan Indonesia Melawan Covid-19?


       Bulan Juni 2020, Indonesia masih menghadapi pandemi covid-19 yang tak kunjung reda. Perubahan siklus dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) menjadi AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) belum menemukan titik temu yang mengutungkan. Bila masih menerapkan PSBB, maka imbasnya adalah ekonomi. Roda perekoniman terhenti PHK makin banyak, dan pelaku UMKM kian gulur tikar. Oleh sebab itu, perubahan konsep dirubah menjadi AKB. Yang mana, semua sektor perlahan mulai digerakan. Mulai sektor ekonomi, birokrasi, dan juga pendidikan.
Bila masalah-masalah ini tak diperhatikan, maka dampaknya adalah generasi setelah kita. Mengutip dari CNN Indonesia, dari hasil survey PISA ( Programme for Internasional Student Assessment), skor rata-rata Indonesia menurun di tiga bidang kompetensi dengan penurunan paling besar di bidang membaca, matematika, dan sains. Selain itu, besarnya persentase siswa berprestasi rendah, dan yang paling krusial adalah tingginya ketidakhadiran siswa di kelas. Artinya masih banyak siswa/i yang tidak hadir saat berlangsungnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).
            Kalau sudah begini, apakah pendidikan di negara ini akan makin merosot? Terlebih saat ini, penyeberan virus corono belum meredam. Masih banyak orang tua yang takut, jika anak-anaknya berpergian ke luar rumah. Jika melihat data, tentunya sangat miris. Karena pendidikan di negara ini seakan terhambat. Pemerintah pun mengupayakan beberapa penyesuain untuk mempersiapakan pola pembelajaran selama masa pandemi. Salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh atau yang disingkat PJJ.
          Penyesuian tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud, serta Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan.

      Namun permasahannya, apakah semua murid mampu untuk melakukan pembelajaran jarak jauh? Lalu, apakah semua orang tua siap untuk membantu tercapainya program ini?
           Mengutip dari harian Kompas.com, selama pembelajaran jarak jauh, tugas bisa hadir saja hadir setiap hari. Situasi rumah pun tak kondusif untuk belajar. Karena di sana tidak ada guru yang mendampingi. Hal ini menjadikan kebosanan bagi anak-anak dalam belajar. Dan tak jarang, orang tua yang melaporkan kejadian ini kepada gurunya. Mulai dari kebosanan, kesulitan dalam belajar, hingga tugas yang kian banyak dibanding pembelajaran secara tatap muka.
         Selain itu, selama masa pembelajaran jarak jauh, peran orang tua lebih kepada penuntasan tugas siswa. Jadi yang belajar orang tuanya, bukan anaknya. Karena kebanyakan anak-anak lebih bersikap pasrah dan seakan tak ingin menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
          Namun, hal ini masih baik. Karena ada di beberapa sekolah yang tidak sama sekali menerapkan KBM. Baik yang sifatnya tatap muka atau online. Anak- anak seakan bebas tanpa ada aturan untuk belajar. Dan orang tua pun tak melarangnya. Padahal, dalam konsep pendidikan Islam, orang tua adalah sumber pembelajaran yang utama. Baru setelah itu sekolah, lalu lingkungan.
          Banyak kisah-kisah terdahulu, yang sangat menginspirasi akan bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ada kisah keluarga Imran dan Hana, istrinya. Pasangan ini melahirkan Maryam. Sosok wanita mulia yang namanya disebutkan dalam hadits nabi.  Dan dari Maryam, lahirlah Isa. Sosok nabi yang agung dan mulia. Keluarga Imran adalah salah satu kisah yang Allah berikan akan kita sadar, bahwa pendidikan yang paling utama adalah di keluarga. Dengan adanya kisah berikut, seharusnya para orang tua bersemangat untuk mendidik anaknya. Karena bisa jadi, inilah kesempatan berharga yang telah Allah berikan, Bukan malah menjadikan beban kehidupan.
       Pandemi ini, masih belum usai. Terkhusus kepada para orang tau, jangan menyalahkan keadaan. Jangan pula menyalahkan pemerintahanan. Perluanya peran orang tua saat ini jauh lebih penting untuk kemajuan anak-anak dalam belajar. Baik sekolah menerapkan system online atau tidak. Orang tua menjadikan kunci penting dalam terwujudnya generasi yang maju dan mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar