Minggu, 11 Agustus 2019



Nama Buku        : Tiga Ibu Kita
Penulis                : Fiersa Besari
Penerbit              : Mediakita

Cetakan               : 2017

          Apakah kamu termasuk seorang traveler? Atau seorang pecinta alam yang telah menaklukan puluhan gunung di negeri ini? Jika iya, maka rasanya buku ini tidak asing oleh kalian. Karena sosok penulis sudah familiar di kalangan para pecinta alam ataupun para traveler.
            Konspirasi alam semesta merupakan salah satu karya tulis dari seoang fiersa besari. Buku ini mencerikan tentang sosok dua pemuda yang dicandu oleh cinta asmara. Mereka adalah Juang Astrajingga dan Ana Tidae. Juang adalah sosok pemuda yang memiliki jiwa petualang, seorang jurnalis lepas, dan tipe cowok romantic tanpa pandai menggombal. Sedangkan ana adalah cewek cantik yang berhasil menembus relung hati, bagi siapa aja cowok yang berada di dekatnya, termasuk Juang dan kang Deri.
            Entah mengapa, ana yang sebelumnya melabuhkan hatinya di hati kang Deri. Perlahan berpindah dan bersimpuh di landasan Juang. Di pelukan juang, ana merasa mendapatkan ketenangan, kenyamanan, dan keisntimewan yang ana sendiri tidak ia dapatkan saat bersama kang Deri. Walaupun kang Deri sendiri, masih berusaha untuk berupaya untuk mendapatkan cinta dari Ana Tidae.
            Kisah kesetian Ana pun diuji, tatkala proposal penelitian Juang diterima. Ia mengajukan penelitian akan fenomena social yang ada di bumi Cendrawasih. Dan ia harus meninggalkan Ana Tidae dalam beberapa bulan ke depan. Hanya kesetiaan dan kesabaran yang bisa Ana andalkan demi menguatkan cinta keduanya. Dan di bagian ini. Kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya fenomena social saudara- saudara kita yang ada di Indonesia bagian timur. Mulai dari Sorong, Raja Ampat, Kaimana, Manokwari dan Yapen.
            Namun perihal di atas belum seberapa, ujian besar yang selanjutnya menimpa Ana Tidae adalah tatkala dirinya di vonis mengindap penyakit tumor otak. Dan dia harus berjuang tanpa ditemani sosok Juang. Di sisi lain, Juang tak tahu akan penyakit yang diderita oleh Ana tidae. Dirinya melarikan diri ke pulau Nias untuk menyelesaikan beberapa tugasnya sembari menghapus panah cemberu lantaran ia melihat Ana dipeluk oleh Deri beberapa hari yang lalu.
            Cinta penuh ujian. Kalimat tersebut seakan menjadi gambaran novel ini. Tatkala, penyakit ana sembuh. Ujian yang selanjutnya adalah tatkala Juang harus berkunjung ke Sinambung. Area yang penuh dengan bahaya terutama area pegunungannya. Dan di saat itu pula, ana sedang mengadung janin dari Juang. Dan di bagian ini ada pilihan diksi yang saya suka
            “ hatiku memang akan senantiasa terbagi untuk tiga perempuan. Ibu, yang keindahannya terukir abadi. Kau, calon ibu untuk anak- anakku kelak. Dan Ibu pertiwi, yang memberikan kebaikannya lagi dan lagi, menelantarkan salah satu dari kalian hanya akan menyakitiku.”
            Walau pada akhirnya, takdir tuhan tidak bisa dipilih. Rasa sakit justru yang Ana terima. Lantaran Juang kembali kepangkuan bukan berupa jasad, namun berupa mayat.
            Novel ini sangat ringan untuk dibaca. Mulai anak remaja, pemuda, bahkan bagi sepasang kekasih yang sedang mengalami LDR (Long Distance Relationship). Buku ini seakan menjadi teman dikala senja untuk menikmati diksi- diski indah yang tak pudar oleh panjangnya tulisan. Pembaca seakan terhanyut dalam arus cerita yang dibuat oleh penulis. Cerita cinta yang dibalut oleh diksi- diksi indah dalam nuansa alam nusantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar